Menurut
salah seorang peserta, acara yang berlangsung di hotel Best Western
Premier jalan Slamet Riyadi Solo itu dihadiri sekitar 50 peserta dari 24
instansi pendidikan negeri yang ada di kota Solo dan sekitarnya.
Workshop
tersebut bisa dikatakan sebagai “Operasi Senyap Deradikalisasi BNPT”
karena dilaksanakan secara diam-diam dan hampir tak diketahui para
aktivis Islam di Solo.
Selain
itu ada beberapa kejanggalan seolah acara tersebut begitu dirahasiakan,
diantaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Surakarta yang merupakan
lembaga pemerintah sama sekali tak tahu apalagi diberi undangan dalam
acara tersebut. Padahal sudah BNPT selayaknya mengundang mereka.
Kemudian,
dari informasi awal yang diterima bahwa acar tersebut akan diadakan di
Hotel Kartika Sari sebelah barat Universitas Negeri Solo (UNS) dengan
menghadirkan Ulil Abshar Abdalla sebagai pembicara. Akan tetapi karena
adanya penolakan dari sejumlah elemen Islam, akhirnya pihak hotel tidak
berani mengadakan acara BNPT dan IAIN Solo.
Ustadz Choirul RS. Ketua DPW Front Pembela Islam (FPI) Solo Kamis pagi (20/9/2012) membenarkan hal tersebut.
“Iya
memang betul. Kemarin (Rabu, 19/9/2012) pagi sebelum acara itu akan
dilangsung, kita sudah kontak Kapolsreta dan Kapolda. Jika acara Ulil
jadi datang dan acara tersebut tetap berjalan, saya tidak bertanggung
jawab bila ada apa-apa. Ulil dan kawan-kawannya ini sudah menghina
Islam. Ini ada apa Ulil dengan BNPT?”, ucap Ustadz Choirul saat
dihubungi voa-islam.com.
Mendegar
acara BNPT ternyata masih berjalan di tempat lain, ustadz Choirul pun
geram. “Oh, masih berjalan tho? Kemarin berarti kita dipermainkan,”
tuturnya geram.
Pagi
itu, para wartawan dari sejumlah media Islam yang pada hari Kamis pagi
tersebut juga tidak boleh masuk. Mereka kemudian menunggu didepan hotel
Best Western tepatnya didepan kantor BCA Gladag atau sebelah barat
bundaran Gladag Solo sambil berbincang-bincang antara satu dengan yang
lainnya.
Salah
seorang wartawan sempat menghubungi H. Abdul Matin Salman, salah seorang
Dosen di Fakultas ushuluddin IAIN solo yang disinyalir sebagai ketua
panitia. Namun ketika dihubungi ia mengelak jika ada pertemuan ataupun
acara pada hari Rabu hingga Kamis pagi.
Namun demikian, wartawan voa-islam.com tetap berusaha masuk dan benar saja, acara tersebut ternyata dihadiri oleh Kepala BNPT, Ansyaad Mbai.
Dalam
acara yang ternyata dimajukan menjadi pukul 07.30 WIB itu Ansyaad Mbai
memberikan sambutannya selama 10 menit mulai pukul 08.00 WIB.
“Tadi
sebetulnya undangan yang saya peroleh itu jam 07.30 mas, tapi jam 08.00
pak Ansyad baru ngasih sambutan”, ujar salah satu undangan dari petugas
Polresta Solo yang dapat kami mintai keterangannya.
Dalam
penutupan sambutannya, Ansyaad Mbai Mengatakan bahwa masyarakat harus
kembali kepada Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Karena itu,
siapa saja yang mencoba merongrong Pancasila, maka dia adalah musuh
negara.
“Dengan
ini, acara Workshop Kurikulum Pendidikan Agama pada hari ini resmi saya
buka (sambil mengetukkan jarinya ke mimbar sebanyak 5 kali, red.). Iya
kan, 5 kali kan? Kan dasar negara kita itu Pancasila. Makanya kita harus
kembali kepada Pancasila”, ujar Ansyaad Mbai yang kemudian langsung
meninggalkan tempat acara.
Ketika para peserta hendak coffe break, maka wartawan voa-islam.com berusaha mengambil gambar. Tapi saat itu pula petugas menghampiri dan mengusir.
Dari
luar nampak penjagaan di hotel Best Western sangat ketat sekali karena
pengamanannya ada yang dari TNI dan kepolisian yang bersenjata lengkap.
Sementara tamu undangan ada yang berasal dari Polresta Solo, Kodim, Korem, Kopassus, Muspida Pemkot Solo dan sekitarnya.
source
voaislam/jum'at,21sep2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar