Laman

Selasa, 07 Februari 2012

Muawiyah Ra mencela Ali bin Abi Tholib Ra adalah riwayat palsu

JAKARTA  – Riwayat yang disebarkan oleh kaum sesat Syiah Rafidhoh  bahwa Muawiyah Ra dan bani Ummayah secara umum melaknat Ali bin Tholib adalah riwayat yang tidak benar. Hal, ini diungkapkan anggota Komisi dan Pengkajian MUI Pusat, ustadz Fahmi Salim, MA.

“Cerita tentang Muawiyah dan bani Umayyah melaknat Ali selama 70 tahun  itu riwayat-riwayat palsu semua,” kata ustadz Fahmi Salim kepada arrahmah.com di kantor MUI Pusat, Jl. Proklamasi, Jakarta Selasa (24/1).
Beliau menjelaskan, bahwa riwayat-riwayat tersebut hanya ada di kitab-kitab sejarah yang ditulis di masa-masa akhir atau belakangan seperti Al Kamil fit Tarikh, Tarikhul khulafa As Suyuti, dan Mu’jamul Buldan.  Bahwa asal muasal berita yang mengatakan bahwa kebijakan Bani Umayyah mencela Imam Ali ibn Abi Thalib di mimbar-mimbar jumat dan baru dihilangkan itu oleh ‘Umar ibn Abdul Aziz, bersumber dari Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat, yang ia riwayatkan dari Ali ibn Muhammad al-Madaini dari gurunya Luth ibn Yahya. Berita semacam ini tidak benar dan sudah diteliti oleh Dr. Ali Muhammad Shallabi dalam bukunya Al-Khalifah Al-Rasyid Umar bin Abdul Aziz.
“Riwayatnya tidak ada yang shohih. Ali bin Muhammad Al Madaini dan Luth bin Yahya sering meriwayatkan dari Syiah,” ujar ustadz Fahmi yang menjelaskan bahwa Ibnu Sa’ad bukan Syi’ah, hanya saja tasahul (terlalu mudah) dalam mengambil dari riwayat syi’ah.

Sambung Ustadz Fahmi, cerita tersebut memang sering diexpose oleh syi’ah, untuk menunjukkan bahwa bukan mereka saja yang senang mencela para sahabat.
“Ini semacam counter attack dari Syi’ah, bahwa Sunni juga mencaci maki Ali bin Abi Tholib,” tukasnya.
Sebagian ulama mengkafirkan Syi’ah Istna Asyariyah, menurutnya bukan karena mencaci maki sahabat, akan tetapi ulama mengkafirkan mereka karena doktrin mereka tentang tahrif (adanya perubahan) pada Al-Qur’an dan doktrin Imamah.
“Mencaci maki sahabat hanya dampak dari keyakinan Imamah Syiah, itu furuiyah (cabang). Jika mereka sudah tidak meyakini Imamah, tidak akan mencela sahabat,” pungkasnya.
Dr. Ali Muhammad Shallabi sendiri dalam bukunya Al-Khalifah Al-Rasyid Umar bin Abdul Aziz (Shallabi: 107) menerangkan bahwa hampir semua pakar dan imam hadis ahlisunnah menilai Ali Al-Madaini dan Luth ibn Yahya sebagai perawi yang tidak bisa dipercaya dan terbiasa meriwayatkan dari orang-orang yang lemah hafalannya dan tak dikenal (majhul).

Selain tinjauan ilmu riwayat hadis, Shallabi juga menganalisis bahwa tidak benar pula fakta puluhan tahun Imam ‘Ali dikutuk Bani Umayyah, sementara kitab-kitab sejarah yang ditulis semasa dengan daulah Umayyah tidak pernah menceritakan adanya fakta sejarah itu.

Kisah itu baru ditulis oleh para ahli sejarah mutakhir dalam kitab-kitab yang disusun pada era Bani Abbasiyah dengan motif politis, untuk menjelek-jelekkan citra Bani Umayyah di tengah umat.
Shallabi juga yakin bahwa kisah itu baru disusun dalam kitab Muruj al-Dzahab karya Al-Mas’udi (Syi’i) dan penulis syiah lainnya hingga kisah fiktif itu ikut tersusupi ke dalam kitab tarikh ahlisunnah yang ditulis belakangan seperti Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fi Tarikh. Namun tidak ada sandaran satupun riwayat yang sahih.


Kutipan :
(bilal/arrahmah.com)
Selasa, 24 Januari 2012 22:17:48

Naturei Karta, Yahudi Baik ?

JAKARTA  – Sebagian Umat Islam menilai ada Yahudi yang baik, biasanya dinisbatkan kepada Naturei Karta sekelompok Yahudi orthodox anti-Zionis. Sikap  Anti-zionis Naturei Karta bahkan, membuat anggota Naturei Karta pernah ditembak oleh tentara Israel.

Rizki Ridyasmara seorang pakar Zionis, menolak jika dikatakan adanya Yahudi yang baik, karena menurutnya antara Yahudi Zionis dengan Yahudi non-zionis tidak jauh berbeda.
“Yahudi zionis dengan Yahudi non-zionis sama-sama memusuhi Islam, Umat Islam selama ini terkecoh” Kata Rizki kepada arrahmah.com di tengah acara Kajian Menyingkap Tabir kesesatan Syi’ah di Masjid Baitul Karim, Tanah Abang, Jakarta, Ahad(5/2).

Naturei Karta menurut Rizki, memiliki perbedaan dengan Yahudi Zionis hanya terletak pada keyakinan menyambut datangnya Mesias (Al Mahdi) ke dunia dalam rangka memimpin bangsa Yahudi, dan pendirian Ketiga kalinya Haikal Sulaiman yang pernah dua kali dihancurkan oleh Nebukadnezar dan Kaisar Romawi. Akan tetapi dalam sikap memusuhi umat Islam mereka sama saja.
“Kalau Yahudi Zionis berkeyakinan sebelum datangnya Mesias mereka Harus membangun terlebih dahulu Haikal Sulaiman, sedangkan Naturei Karta berkeyakinan Haikal harus didirikan bersama Mesias yang telah datang ke dunia” papar penulis buku-buku konspirasi ini.

Lebih dari itu, Dia meminta Umat Islam agar menilai sesuatu dengan Al-qur’an dan sunnah. Terutama menyikapi Yahudi, karena menurutnya tidak ada pembedaan Yahudi yang Zionis atupun Non-Zionis.
“Tidak ada di Qur’an tentang Yahudi baik, Wa lan tardho ankal Yahudu walan nashoro hatta tattabi’a milatahum. Itu saja” ujarnya mengutip ayat Al-Qur’an.

Untuk membangun Haikal Sulaiman ketiga, Yahudi perlu menghancurkan dan merobohkan Masjid Al-Aqsho. Dan mendirikan Haikal Sulaiman di atas reruntuhannya, menurutnya Naturei Karta dan Yahudi Zionis, memiliki Keyakinan yang sama dalam menghancurkan Al-Aqsho.
“Mereka sama-sama menggunakan Talmud, jadi sama dalam menyikapi Al-Aqsho.”beber Rizki.
Menyinggung kedekatan Naturei Karta yang merupakan Yahudi Orthodoks dengan Iran,yang pernah disambut sangat hangat oleh Ahmadinejad di Iran.  Rizki menambahkan adanya keanehan dengan Syi’ah Iran.
“Menurut penuturan teman saya yang pernah kuliah di Teheran, disana tidak ada masjid sunni, tetapi terdapat 40 Sinagog di Teheran.”pungkasnya. 


Kutipan :
(bilal/arrahmah.com)
Senin, 6 Februari 2012 14:45:52

Said Aqil Siradj Menjilat Ludah: Dulu Penelitii Sunnah, Kini Pejuang Syi'ah

 
KH Said Aqil Siradj
 Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

PERJALANAN hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (istiqamah).

Karena itu, dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Dan ini mungkin salah satu hikmah yang dapat anda petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rekaat shalat. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa menunjuki anda jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran

Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj di berbagai media. Said Aqil mengatakan bahwa ajaran Syi’ah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.
Untuk menguatkan klaimnya ini, Said Aqil merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya, Universitas Ummul-Quro di Arab Saudi.  "Wahabi yang keras saja menggolongkan Syi’ah bukan sesat," demikian klaim Said Aqil.

Pernyataan Said Aqil ini menyelisihi fakta dan menyesatkan. Sebagai buktinya, pada Mukaddimah disertasi S3 Said Aqil semasa kuliah di Universitas Ummul-Quro, hal: tha’ (ط), ia menyatakan: “Telah diketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia secara politik, ekonomi, sosial dan ideologi menghadapi berbagai permasalahan besar. Pada saat yang sama mereka menghadapi musuh yang senantiasa mengancam mereka. Dimulai dari gerakan kristenisasi, paham sekuler, kebatinan, dan berbagai sekte sesat, semisal Syi’ah, Qadiyaniyah (Ahmadiyah), Bahaiyah dan selanjutnya tasawuf.”

Pernyataan Said Aqil pada awal dan akhir desertasi S3-nya ini menggambarkan bagaimana pemahaman yang dianut oleh Universitas Ummul-Quro. Bukan hanya Syi’ah yang sesat, bahkan lebih jauh Said Aqil dari hasil studinya menyimpulkan bahwa paham tasawuf juga menyimpang dari ajaran Islam.

Karena itu, pada akhir dari disertasinya, Said Aqil menyatakan: “Sejatinya ajaran tasawuf dalam hal “al-hulul” (menyatunya Tuhan dengan manusia) berasalkan dari orang-orang Syi’ah aliran keras (ekstrim). Aliran ekstrim Syi’ah meyakini bahwa Tuhan atau bagian dari-Nya telah menyatu dengan para imam mereka, atau yang mewakili mereka. Dan idiologi ini sampai ke pada para pengikut Sekte Syi’ah berawal dari pengaruh ajaran agama Nasrani.” (Silatullah Bil-Kaun Fit-Tassawuf Al-Falsafy oleh Said Aqil Siradj 2/605-606)

Karena menyadari kesesatan  dan mengetahui  gencarnya  penyebaran Syi’ah di Indonesia, maka Said menabuh genderang peringatan. Itulah yang ia tegaskan pada awal disertasinya, sebagai andilnya dalam upaya melindungi umat Islam dari paham yang sesat dan menyesatkan.
Namun, alangkah mengherankan bila kini Said Aqil menelan kembali ludah dan keringat yang telah ia keluarkan. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kini ia ingkari sendiri dan dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan pembela Syi’ah. Mungkinkah kini Said Aqil telah menjadi korban ancaman besar yang dulu ia kawatirkan mengancam Umat Islam di negeri tercinta ini?

Oleh: Dr Muhammad Arifin
Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, Dosen Terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI).

Kutipan :
VOA
Jum'at, 03 Feb 2012

Ja'far Umar Thalib: Gugat Wahabi, Said Aqil Bermental Preman

Jafar Umar Thalib 

Jakarta (voa-islam) – Apa tanggapan Ustadz Jafar Umar Thalib ketika paham Wahabi nya digugat Syaikh Idahram dan Said Agil Siradj? Ketika ditemui voa-Islam usai peluncuran buku Mereka Buka Thagut di Hotel Sahid, Jakarta, belum lama ini (17/12), Ustadz Jafar mengaku sudah membaca buku karya Syaikh Idahram berjudul: Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi. Ia menilai, buku itu ditulis oleh seseorang yang misterius.

“Saya tidak tahu apa niat yang ada pada pihak penulis. Tingkahnya menyembunyikan dirinya  menunjukkan ada agenda tertentu terhadap apa yang ditulisnya. Kenapa harus melempar batu sembunyi tangan,” kata Jafar mempertanyakan.

Ustadz Jafar merasa heran, data-data yang disampaikan dalam buku yang ditulis Syaikh Idahram sangat carut-marut, dan tidak akurat. Ia juga menyesalkan, “Kenapa orang yang sekapasitas Prof Dr Said Agil Siraj membuat kata pengatar terhadap buku sampah sepert itu. Saya tidak mengerti, apa agenda dibalik itu semua. Tapi, yang jelas ada agenda busuk di dalamnya. Orang yang sembunyi-sembunyi itu, jelas tidak baik. Ada agenda yang mereka rencanakan,” ungkap Ja’far.

Jafar khawatir, Said Agil mendompleng NU untuk melancarkan keresahan kelompok pluralis yang selalu mendapt hantaman dari kalangan  Salafiyyin. Ketika ditanya, apakah ia mendesak agar Said Agil mencabut pernyataannya soal hujatannya kepada Wahabi, Jafar merasa tidak berkepentingan. “Saya tidak berkepentingan untuk meminta Said Agil untuk mencabut kembali omongannya. Biarkan saja dia ngomong, supaya semakin nyata, bahwa mentalnya Said Agil tak ubahnya mental preman. Said Agil preman,” kata Jafar.

Yang membuat Jafar heran, adalah ketika Said Agil menyebut 12 yayasan yang ditudingnya telah menebar benih kekerasan. Kata Ja’far, data yang dikemukakan Said Agil itu ngaco tidak karuan. Terlebih, ketika menyebut Yayasan As Sunnah yang dipimpin oleh Salim Bajerei sebagai yayasan radikal.”Ngaco, darimana dia dapatkan data itu, mungkin dia dapatkan dari Pasar Tanah Abang. Profesor apaan tuh,” ketus Jafar kesal.
Jafar menduga, ada upaya adu domba antara NU dengan Wahabi. Karena, Said Agil sesungguhnya bukan sedang mewakili aspirasi NU, tapi mewakili aspirasi kelompok pluralis.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua BNPT Ansyad Mbai yang hadir saat Workshop Deradikalisasi yang diselenggarakan Muslimah NU beberapa waktu lalu akan menjadi buku yang menggugat Wahabi itu sebagai referensi BNPT. Apa komentar Jafar soal itu? “Nanti akan saya tanyakan Ansyad Mbai. Sangat salah, jika buku itu dijadikan referensi,” tandas Ja’far.


Kutipan :
Desastian VOA
Rabu, 21 Dec 2011

Ustadz Ja'far Umar Thalib: Sampai Mati Saya Akan Jadi Wahabi

Ja’far Umar Thalib
Mantan Panglima Laskar Jihad

Jakarta (voa-Islam) – Di dalam Peluncuran Buku Mereka Bukan Thagut, Mantan Panglima Laskar Jihad Ustadz Ja’far Umar Thalib meneguhkan pendiriannya bahwa ia adalah seorang Wahabi tulen.

“Ketika saya mempelajari Kitab Fathul Madjid karya Syaikh Abdurrahman bin al Hasan bin Muhammad bin  Abdul Wahab dan Kitab ‘Ilamul Waqi’in karya Syaikh Qayyim al-Jauziyah, sehingga saya menjadi Wahabi. Dan Alhamdulilah, sejak dulu, saya sudah jadi da’i Wahabi, sampai sekarang. Mudah-mudahan sampai mati jadi Wahabi. Amin," tegas Ustadz Ja’far.

Setelah membaca buku “Mereka Bukan Thagut” karya Khairul Ghazali, Ustadz Ja’far mengaku tersentak, penulisnya menukil pendapat dari ulama-ulama Wahabi.  Tersentaknya, ada kalimat yang menyatakan, bahwa dakwah Wahabiyah menggunakan kekerasan. Begitu juga dengan kalimat, Muhammad Al- Su’ud dikatakan sebagai antek Inggris.  “Ini merupakan analisa politik, bukan kesimpulan  agama. Saya khawatir, buku ini masuk dalam analisa politik, bukan merupakan kesimpulan, saya tidak setuju dengan pendapat ini,” ujarnya.

Bahkan, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab at Tamimi yang memimpin gerakan dakwah ahlu sunnah wal jamaah -- atau yang dituding  Wahabi itu -- mempunyai perjanjian dengan Muhammad al Suud al-Mukrin, yakni seorang kepala desa yang diajak bekerja sama oleh Muhammad bin Abdul Wahab.  Jika Al-Suud mendukung dakwah ini, maka perjanjiannya, ia punya hak punya memegang komando perang, sedangkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab punya hak dalam memberikan fatwa. Mereka pun sepakat. Kemudian Abdul Azin bin Abdurrahman , cucunya Muhammad bin al-Suud mengumumkan berdirinya negara Saudi, negaranya negaranya Ahslu Sunnah Wal Jamaah.  
Sejak itu, hukum yang berlaku hari ini adalah untuk Allah dan Rasul-Nya, juga untuk Al-Suud . “Jadi bukan ditunggangi, dan bukan merupakan antek inggris, tapi betul-betul ahlu sunnah, dimana gerakan dakwah didukung secara resmi oleh negara, dan tercantum di dalam konstutusi Kerajaan Saudi. Saya mohon maaf, jika ada yang tidak senang dengan pemahaman saya ini,” jelas Ja’far.

Bicara Soal Thagut
Ketika menanggapi buku “Mereka Bukan Thagut”, Ustadz Ja’far Umar Thalib mengatakan, secara umum buku ini banyak menukil keterangandan literatur dari para ulama ahlu sunnah wal jamaah. Sepertinya, penulisnya, lebih senang perhatiannya pada sisi bahasa (lughawi), dalam memaknai istilah thagut.

Ibnu Qayyim tentang definisi thagut, seperti yang dinukil Khairul Ghazali, adalah hamba Allah yang melanggar batas-batas Allah, baik dalam bentuk ma’bud (sesembahan) atau sesuatu yang dikuti (isme), seperti sekularisme, pluralisme,  ekstrimisme dan sebagainya. Juga termasuk, ketika tokoh yang ditaati  itu membawa hamba Allah melanggar hukum Allah, sehingga ia disebut thagut. “Disini thagut, pengertiannya adalah tokoh, pelopor, dan isme yang menjadi sebab hamba Allah melanggar hukum Allah.”

Menurut Ustadz Ja’far, kedudukan thagut itu jauh lebih jahat dari orang yang melampaui batas. Disebut Thagut, disamping dirinya melampaui batas, juga mengajak orang lain melampaui batas. “Jadi benar, kita semua berpotensi menjadi thagut. Termasuk pihak yang mempelopori orang lain untuk melanggar hukum Allah juga disebut thagut. Jadi thagut bisa dalam bentuk pimpinan, pemerintah, kepala suku, dan pimpinan kelompok  atau bisa jadi ulama Su’ yang menggunakan ilmu agamanya untuk mengajak  orang lain pada kesesatan dari agama Allah.”  


Kutipan :
Desastian VOA
Rabu, 21 Dec 2011

Di Batam, Lagi-lagi Ketua Umum PBNU Serukan Perangi Ajaran Wahabi

KH. Said Aqil Siradj  
Ketua Umum PBNU

Batam (Voa-Islam) – Inilah untuk kesekian kalinya, Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj menyerukan untuk memerangi ajaran Wahabi. Kali ini seruan itu diucapkan Said Aqil di Aula Politeknik Negeri, Batam, Ahad (5/2) dalam sebuah acara bedah buku Sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram yang digelar Gerakan Ansor Provinsi Kepulauan Riau.

Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi."Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal," kata dia.

Ia mengatakan, Wahabi memang bukan teroris, namun ajaran-ajaran yang disampaikan menganggap ajaran lain tidak benar sehingga harus ditentang dan mereka mengatasnamakan Islam. “Wahabi selalu mengatasnamakan Islam dalam doktrin atau ajaran yang dilakukan, namun tindakannya kadang tidak islami. Meraka sering menganggap umat lain menjalankan tradisi bidah yang tak diajarkan agama seperti ziarah kubur, baca tahlil, sehingga ajaran itu harus diperangi," kata dia.

Ia mengatakan, segala kegiatan yang dilakukan umat Islam terutama kaum Nahdiyin (NU) semua berdasarkan ajaran dan tuntunan serta tidak ada yang mengada-ngada. Satu alasan mengapa NU menyatakan memerangi Wahabi karena ajaran yang disampaikannya malah membuat perpecahan dalam tubuh Islam."NU tegas terhadap Wahabi, kami justru menghargai madzhab (dan agama lain)," kata dia. Hal tersebut, tambah Said, karena dalam Al-Quran juga diajarkan untuk saling menghargai antarumat beragama.


Kutipan :
(Desastian) VOA
Senin, 06 Feb 2012