Laman

Rabu, 15 Februari 2012

FPI : Indonesia tanpa kaum Liberal

JAKARTA (Arrahmah.com) – Dua serangan opini yang dibangun terhadap FPI berupa penolakan sekelompok ormas yang mengklaim mewakili warga  Dayak untuk memasuk Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada Selasa 14 Februari 2012 dan demo gerombolan massa yang menamakan diri “Koalisi Rakyat Indonesia Tanpa FPI” di Jakarta, tidak membuat gentar FPI.

Menanggapi aksi tersebut, Ketua DPD FPI Jakarta Habib Salim Al-Attas mengatakan, “Bagi FPI, pro kontra sudah biasa. Namun, jadikanlah aksi demo yang damai, sampaikan aspirasi dengan tidak mengganggu keamanan,” kata dia.
Setelah aksi demo berlangsung, para pimpinan dan anggota FPI berkumpul di markas di Jalan Petamburan III No. 18, Jakarta Barat.  

Soal pertemuan tersebut, Salam Al Athas mengatakan, tak ada kaitannya dengan demonstrasi itu. “Kemarin kami rapat soal penyelenggaraan Maulid Nabi 3 Februari lalu. Kami menyimpulkan, acara sukses,” kata dia.
Demo anti FPI tak dibahas secara khusus. “Nggak masalah, cuek saja, enjoy saja. Dari dulu FPI mau dibubarin era Gus Dur, nggak tahunya Gus Dur bubar duluan. Mau diserang massa, nggak jadi-jadi. Kami ketawain aja. Sudah biasa,” kata dia.

Salim menambahkan, boleh-boleh saja orang menuntut Indonesia tanpa FPI. “Sebaliknya, FPI juga menuntut Indonesia tanpa kaum liberal,” kata dia.
Dia menambahkan masyarakat kini telah lebih dewasa dalam menyikapi persoalan, terkhusus menyangkut keberadaan FPI.


Kutipan :
(bilal/vn/arrahmah.com)
Rabu, 15 Februari 2012 20:29:44

Ada unsur politis dalam tragedi penyerangan delegasi FPI

JAKARTA (Arrahmah.com) – Penghadangan delegasi FPI Pusat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya pada Sabtu (11/2/2012), janggal dan sarat dengan muatan politis. Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Syihab, menganggap ribuan massa penghadang yang mengklaim Suku Dayak tersebut merupakan binaan dari Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Teras Narang.

Massa yang mengatasnamakan warga Dayak itu mengepung pesawat Sriwijaya yang di dalamnya ada empat pimpinan DPP FPI diantaranya, Ustadz Sobri Lubis (Sekjen FPI), Habib Muchsin Al- Attas (Ketua DPP FPI), Ustadz Awit Masyhuri (Ketua Bidang Dakwah FPI) dan Ustadz Maman Suryadi Abdurrahman (Panglima Laskar FPI).

Menurut Habib Rizieq, ada skenario berupa penyesatan opini publik bahwa seakan-akan keberadaan FPI di Kalteng dapat mengganggu kestabilan masyarakat terutama Suku Dayak. Padahal menurut Habib, selama ini FPI telah memiliki hubungan baik dengan berbagai suku Dayak se-Kalimantan. Habib Rizieq menjelaskan bahwa sebulan lalu bahkan delegasi warga Dayak Kalteng dari berbagai agama mendatangi DPP FPI di Petamburan untuk meminta bantuan untuk menghadapi arogansi Gubernur Kalteng dan Kapolda Kalteng tentang konflik agraria seperti Kasus Mesuji – Lampung.

Fakta yang lain menegaskan bahwa tidak semua warga Dayak menolak kehadiran FPI di Kalimantan Tengah. Berbeda dengan massa yang mengatasnamakan Dewan Adat Dayat (DAD) dan Majelis Adat Dayak Nusantara (MADN) yang memang menolak kedatangan FPI di Kalteng, Tokoh Dayak Seruyan mengakui jika mereka mendukung FPI.
“Saya dari masyarakat Dayak Seruyan. Betul kata Habib (Rizieq) tidak semua masyarakat menolak FPI, kami akan tetap mendirikan FPI di Seruyan, Kobar, Kotim, Sampit, dan Kuala Kapuas, secepat-cepatnya. Masyarakat mendukung dan kami bahkan meminta”, kata Budiardi, warga asli Dayak yang tercatat sebagai  anggota DPRD Seruyan, Senin (13/2/2012), dilansir fpi.or.id.

Budiardi menambahkan bahwa yang menolak FPI bukanlah masyarakat Dayak di pedalaman, melainkan sekelompok orang di Palangkaraya, “Masyarakat Dayak menginginkan FPI ada di sana”, ujarnya yang juga menjabat sebagai pengurus Dewan Adat Suku Dayak.

Habib Rizieq mengatakan, bahwa Budiardi yang hingga kini bersama 12 orang lainnya dituduh sebagai tersangka atas tuduhan perusakan kebun kelapa sawit pada awal Desember lalu, adalah anggota dewan yang sedang melakukan pembelaan terhadap masyarakat Dayak Seruyan yang tanahnya dirampas oleh pengusaha lokal.
“Setelah beliau berjuang selama bertahun-tahun, justru beliau yang  dikejar-kejar, mau dikerjai oleh Gubernur Kalteng dan mau dikerjai oleh  Kapolda Kalteng. Maka dari itu mereka meminta perlindungan pada FPI dan  kini FPI  tengah melakukan advokasi dan litigasi”, jelas Habib.

Banyak perusahaan perkebunan yang terletak di Kabupaten Seruyan yang membuka lahan melebihi izin resmi yang mereka terima. Hal ini menyebabkan timbulnya konflik antara masyarakat dan perusahaan. Seperti yang terjadi di kawasan PT Sawit Subur Lestari dan PT. Best Agro Internasional.
Habib Rizieq yakin penolakan kedatangan FPI karena takut kebobrokan pejabat terbongkar. Habib menilai Teras Narang sengaja menggerakkan massa untuk menghadang FPI karena takut kebobrokannya terbongkat, terutama soal perampasan tanah masyarakat Dayak oleh para Kapitalis, “Mereka takut dibongkar keboborokannya. (Justru) FPI sedang membela Dayak Seruyan yang dizalimi pengusaha dan preman”, ujarnya.

Sementara itu, menurut Munarman, Ketua FPI Bidang Nahi Munkar, menilai penolakan terhadap kedatangan pengurus pusat FPI merupakan bentuk balas dendam Teras Narang terhadap Islam. Terutama terkait sejumlah kasus di Jabodetabek.
Munarman menduga Teras Narang melihat dengan salah kasus Ciketing di Bekasi dan GKI Yasmin di Bogor. Teras Narang mungkin melihat ada peran FPI di belakang kasus-kasus gereja ilegal itu, “Jadi dia balas dendam terhadap FPI”, katanya.

Sentimen Agama dan Politik
Alasan warga Palangkaraya menolak keberadaan FPI seperti yang mereka katakan adalah karena FPI sering melakukan “kekerasan”. Padahal, aksi FPI yang mereka katakan sebagai “kekerasan” itu tidak sebanding dengan kader-kader partai politik, termasu PDI, masih banyak mereka yang melakukan kekerasan. Tentunya “kekerasan” FPI adalah untuk memberantas kemaksiatan bukan kekerasan yang dilakukan untuk merusak tatanan masyarakat.
Contohnya, di pilkada di Tuban,  kader PDI beberapa waktu lalu, meluluhkan lantakkan pendopo Kabupaten Tuban, tetapi tidak ada yang menyebut PDI sebagai biang tindak kekerasan. Teras Narang, adalah salah satu kader PDI, seorang Kristen Fanatik, telah membangun gereja terbesar di Kalimantan. Toleransi yang selama ini didengungkan di pusat, hanyalah omong kosong belaka. Orang-orang Kristen menganggap orang-orang non-Kristen sebagai domba-domba yang sesat, dan harus diselamatkan (dikristenkan), maka tidak ada toleransi pada dasarnya, terutama terhadap umat Islam.

Tentunya Umat Islam yang “sadar” sudah faham bahwa Allah telah memberitahu bahwa Kristen dan Yahudi selamanya tidak akan pernah senang kepada Umat Islam, kecuali jika mengikuti agama mereka.
Di Palangkaraya, orang-orang Dayak Kristen melakukan pembantaian terhadap ribuan orang Madura. Laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang tua, tidak pandang bulu, biadab tanpa belas kasihan. Tetapi, tindakan mereka tidak pernah dikatakan atau dikutuk sebagai tindakan kekerasan. Di Singkawang dan Sanggoledo, ratusan orang Madura tewas, dan ribuan lainnya meninggalkan rumah-rumah mereka, karena dibunuh dan rumah mereka dihancurkan oleh orang-orang Dayak Kristen. Namun tindakan itu tak juga dianggap terkutuk oleh “orang-orang atas” dan para pengikutnya di negeri ini.

Pada bulan Januari lalu, puluhan warga Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalteng, berdemo mendatangi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengadukan soal lahan tanah mereka yang dirampas oleh perusahaan Kapitalis perkebunan kelapa sawit. Mereka juga meminta perlindungan hukum terhadap 12 orang masyarakat Seruyan yang ditahan pihak Kepolisian Polres Seruyan atas tuduhan perusakan tanah perkebunan. Namun “para petinggi” tak juga menggubris jeritan rakyat.

Hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru atau aneh. Sudah menjadi kebiasaan bagi para Kapitalis merampas hak-hak rakyat jelata dengan menggunakan tangan-tangan politisi. Kapitalis membayar, uang melimpah, tangan mereka bersih, diatas keringat dan darah rakyat pedesaan.

Sistem Hukum Kafir
Sistem hukum kafir selalu beridiri diatas penderitaan rakyat. Maka janganlah heran, jika masalah sekecil apapun yang dilakukan oleh rakyat kecil akan mendapat “hukuman seberat-beratnya”. Apa saja yang “mengusik” tatanan hukum kafir, akan dijatuhi hukuman yang tidak logis. Lalu apa hubungannya dengan kasus yang sedang dihadapi FPI?

FPI adalah salah satu ormas Islam yang “keras” untuk menegakkan Syari’at Islam. Saudara-saudara di FPI tidak akan segan-segan bertindak untuk memberantas kemaksiatan yang meraja lela. Hal ini adalah suatu ancaman terbesar bagi negara yang menegakkan sitem hukum kafir. Umat Islam yang kuat terhadap keyakinannya akan selalu menjadi “buruan” para politis hukum kafir. Sekecil apapun tindakan yang diperbuat, maka akan dijatuhi hukuman yang tidak logis, minimal dicemarkan nama baiknya di tengah-tengah masyarakat yang sudah terdoktrin sistem kafir.

Umat Islam yang senantiasa ingin menegakkan kebenaran akan selalu dihalang-halangi oleh para “tentara” sistem kafir. Maka kita lihat, sekecil apapun tindakan yang dilakukan Umat Islam untuk menegakkan kebenaran yang dalam sistem hukum kafir telah tercatat sebagai “kekerasan”, akan disorot oleh setiap media yang mendukung sistem kafir, untuk menyebarkan propaganda, memutar balikkan fakta, menyembunyikan kebenaran, tidak mengizinkan mereka yang ingin berbicara membela kebenaran, dan akhirnya mendoktrin masyarakat awam.


Kutipan :
(siraaj/arrahmah.com)
Selasa, 14 Februari 2012 22:18:14

Umat Islam Kutuk Percobaan Pembunuhan Gerombolan Dayak terhadap Ustadz FPI

JAKARTA (voa-islam.com) – Ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) mengecam percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh ribuan mengatasnamakan Dayak terhadap empat pimpinan Front Pembela Islam (FPI).

Dalam catatan FUI, pada insiden pada Sabtu (11/2/2012) itu, ribuan orang mengepung empat pimpinan FPI di bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, bahkan ratusan di antaranya membawa senjata tajam memasuki bandara. Massa yang mengatasnamakan warga Dayak itu mengepung pesawat Sriwijaya yang di dalamnya ada empat pimpinan DPP FPI:  Ustadz Sobri Lubis (Sekjen FPI), Habib Muchsin Al- Attas (Ketua DPP FPI), Ustadz Awit Masyhuri (Ketua Bidang Dakwah FPI) dan Ustadz Maman Suryadi Abdurrahman (Panglima Laskar FPI).


Fakta-fakta itu, menurut FUI menunjukkan bahwa gerombolan Dayak itu berusaha keras untuk melakukan pembunuhan terhadap para ustadz FPI yang sedang dalam perjalanan untuk dakwah. “Karena mereka bersenjata dan bernafsu mau membunuh pimpinan FPI  yang ada di pesawat, pilot pesawat menerbangkan keempat pimpinan FPI ke Banjarmasin,” papar M Al-Khaththath, Sekjen FUI dalam rilisnya kepada voa-islam.com, Selasa (14/2/2012).


“Forum Umat Islam mengutuk tindakan gerombolan yang mengatasnamakan suku Dayak yang telah mengepung pesawat dan mengacung-acungkan senjata untuk membunuh empat pimpinan FPI yang ada di dalam pesawat,” kecam Khaththath. “Bahkan mengejar ke Kuala Kapuas untuk mengusir dan hendak membunuh mereka serta membakar rumah dan panggung Tabligh Akbar,” tambahnya.

Selain itu, FUI mengecam Kapolda Kalimantan Tengah yang dinilai melakukan pembiaran terhadap massa bersenjata di area Bandara. “FUI juga mengucuk Kapolda Kalimantan Tengah yang gagal menjaga keamanan dan melakukan pembiaran sehingga gerombolan preman bersenjata bebas berkeliaran bahkan masuk bandara,” tegasnya.


Menurut Khaththath, pengusiran ribuan massa bersenjata yang mengatasnamakan Dayak itu seharusnya tidak boleh terjadi. Karena insiden itu memiliki persamaan dengan konflik berdarah antara Dayak dan Madura beberapa tahun silam. “Pembiaran ini mengingatkan kita pada peristiwa pembantaian dan pengusiran puluhan ribu etnis Madura dari Sampit dan seluruh wilayah Kalimantan Tengah sebelas tahun lalu,” ujarnya. 

Sebagaimana diketahui, Forum Umat Islam (FUI) adalah aliansi ormas-ormas Islam, antara lain: Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Hidayatullah, Al Washliyyah, YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid, Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, KISPA, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Adz Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Forum Ruju’ Ilal Haq, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.


Kutipan :
[MA Gani] / VOA
Selasa, 14 Feb 2012 

FUI Serukan Seluruh Umat Islam Dukung Dakwah FPI di Bumi Dayak

JAKARTA (voa-islam.com) – Meski dakwah FPI dihadang oleh ribuan massa bersenjata yang mengatasnamakan Dayak, ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) tetap mendukung dakwah FPI di bumi Dayak, Kalimantan Tengah.

Puluhan ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI), antara lain: Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Hidayatullah, Al Washliyyah, YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid, Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, KISPA, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Adz Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Forum Ruju’ Ilal Haq, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

“Kami meminta semua pimpinan ormas dan lembaga Islam serta semua komponen umat Islam untuk memberikan simpati dan dukungan kepada FPI,” ujar Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath, dalam rilisnya kepada voa-islam.com, Selasa (14/2/2012).
Dukungan itu, jelas Khaththath, karena dakwah Islam diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, tak terkecuali umat di Kalimantan Tengah. “Agar tetap melanjutkan dakwah dan amar makruf nahi munkar di seluruh wilayah NKRI, termasuk Kalimantan Tengah,” paparnya.

Selain itu, FUI memuji langkah yang tidak terprovokasi dengan ulah gerombolan ribuan massa yang mengatasnamakan Dayak itu. “FUI mendukung sikap dan langkah FPI yang elegan dalam mengahadapi fitnah tersebut,” jelasnya.


Kutipan :
[MA. Gani] / VOA
Selasa, 14 Feb 2012
 

MUI, NU & Muhammadiyah Kecam Perusakan Rumah Anggota FPI Palangkaraya

SURABAYA (voa-islam.com) - Sebanyak 37 ormas Islam di Jawa Timur mengutuk keras tindakan perusakan rumah anggota Front Pembela Islam (FPI) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Mereka meminta pihak terkait bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Pernyataan sikap itu disampaikan 37 ormas Islam yang tergabung dalam Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jatim di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Ormas yang hadir di antaranya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, GP Ansor, Hizbur Tahrir Indonesia (HTI).

Mochammad Yunus, Sekretaris MUI Jatim, Selasa (14/2/2012), mengungkapkan ormas mendesak Kepolisian segera menyelesaikan kasus pengerusakan dengan menangkap pelaku.

Hal yang sama juga disampikan Seketararis FPI Jatim Mochamad Choiruddin. Menurutnya penyerangan terhadap FPI sudah mengarah kepada perbuatan kriminal.

Seperti diketahui pada Sabtu 11 Februari lalu, rombongan pengurus FPI dari Jakarta yang akan menghadiri pengkuhan pengurus FPI Palangkaraya dihadang dan dibubarkan oleh sekelompok orang di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya. Massa juga membakar sebuah tenda dan memecahkan kaca jendela rumah seorang anggota FPI di Palangkaraya.


Kutipan :
(widad/okz) / VOA
Rabu, 15 Feb 2012
 

Sikap Media Islam Ketika FPI Jadi Bulan-bulanan Media Sekuler

Front Pembela Islam (FPI) menjadi bulan-bulanan media. Berangkat dari sinisme terhadap FPI, akhirnya pemberitaan yang dilakukan sebagian media menjadi tidak obyektif. Kecuali media Islam, beberapa media menyajikan pemberitaan yang mengarahkan pembacanya pada citra buruk FPI.

Sikap sinis ini semakin kentara ketika media menghadirkan berita yang tidak sama antara badan berita dengan judul. Misalnya, Kompas.com tertanggal 12 februari pukul 12.40 WIB, yang menurunkan berita tentang statemen Din Syamsudin terkait penolakan kehadiran FPI di Kalimantan Tengah. Judul berita yang diturunkan Kompas.com adalah “Din Syamsudin: Tolak Ormas Anarkis”. Isi berita tersebut adalah pernyataan Din Syamsudin yang menolak segala bentuk kekerasan. Tidak ada satu kalimat pun dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, di berita itu, yang menyebut “Tolak Ormas Anarkis.”

Pemberian judul di atas menjadi bias karena seolah-olah Din Syamsudin menolak FPI, padahal dalam pernyataannya, Din hanya mengatakan tolak segala bentuk aksi kekerasan yang bisa dilakukan siapa saja. Bisa disimpulkan, Kompas.com sudah melakukan penghukuman terhadap FPI (Trial by The Press) dengan memberikan judul seperti itu. Selengkapnya bisa dilihat http://nasional.kompas.com/read/2012/02/12/12403753/Din.Syamsuddin.Tolak.Ormas.Anarkis.

Lain pula yang dilakukan Vivanews.com. Media ini menurunkan sejumlah berita terkait kehadiran FPI di Kalimantan Tengah namun mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Salah satu berita yang cukup bombastis adalah berita dengan judul “Usir FPI karena Warga Dayak Trauma Konflik” tertanggal 14 februari pukul 00:02 WIB.

Dengan judul menggunakan tanda kutip, pembaca disuguhi pernyataan langsung dari seorang pengamat. Redaksi tentu sudah memilih siapa pengamat yang jawabannya sesuai dengan keinginan mereka. Uniknya, ada lead yang memperkuat judul dalam berita itu, “Tak ada terkait agama. Mereka tidak menolak Islam, tapi menolak radikalisme.” Pemilihan lead semacam ini menjadi biasa dilakukan awak redaksi untuk mengarahkan kemana pembaca akan digiring. Selengkapnya bisa dilihat http://nasional.vivanews.com/news/read/287841–usir-fpi-karena-warga-dayak-trauma-konflik-

Detik.com sebagai portal berita internet yang kini dikuasai Transcorp juga tidak kalah menunjukkan sinisme terhadap FPI. Media ini bahkan menghilangkan identitas Habib pada Ketua Umum FPI Muhammad Rizieq Shihab. Di setiap penulisan berita, Detik.com selalu menyebut Ketua Umum FPI Rizieq Shihab. Tidak ada penjelasan mengenai hal ini dari portal berita ini.

Di beritanya lainnya, Detik.com mewawancarai peneliti SETARA Institute yang notabene adalah lawan ideologis FPI. Dalam wawancara itu, FPI digambarkan sebagai organisasi yang kebal terhadap hukum karena merusak tempat-tempat prostitusi , penyebaran miras dan lain sebagainya, namun dibiarkan oleh pemerintah. Statemen peneliti SETARA Institute pun dikutip hanya sebagian oleh Detik.com, karena di akhir badan berita, penulisnya hanya mengutip penggalan kalimat dari berita yang sudah tayang sebelumnya.
Beritanya bisa di lihat http://news.detik.com/read/2012/02/13/020916/1840605/10/insiden-tolak-fpi-di-palangkaraya-bentuk-kekecewaan-pada-pemerintah?nd992203605

Yang harus diperhatikan lebih di Detik.com adalah komentar-komentar dari pembaca yang kebanyakan anonim. Setiap berita menyangkut FPI atau Islam, pasti banyak komentar-komentar sinis, bahkan menghina, yang sepertinya dibiarkan oleh redaksi Detik.com.

Sementara itu, Antaranews.com yang menjadi kantor berita resmi pun menurunkan sejumlah berita yang bisa disimpulkan tidak setuju dengan adanya FPI. Beberapa judul yang ditulis media ini bahkan menunjukkan sikap redaksi yang demikian. Salah satunya adalah berita dengan judul “Warga Dayak Tolak FPI” tertanggal 11 Februari pukul 15:54 WIB. Beritanya http://www.antaranews.com/berita/296896/warga-dayak-tolak-fpi
Antaranews.com rupanya juga menurunkan berita yang sama dengan Kompas.com tertanggal 12 Februari dengan narasumber Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin. Berbeda dengan Kompas.com, Antaranews.com tidak mengutip satu kata pun tentang ormas anarkis. Dalam artikel itu, Din Syamsudin menekankan tidak ada agama di Indonesia yang menolak keberagaman.

Bagaimana media massa Islam?
Berbeda dengan media-media massa mainstream, media Islam justru melakukan pembelaan terhadap FPI. Sebut saja eramuslim.com, voa-islam.com, arrahmah.com, hidayatullah.com dan republika.co.id. Sebagian dari media massa itu bahkan menyebut Dayak Kafir untuk menunjukkan sikap redaksi.
Mereka mengutip statemen dari seluruh pengurus FPI, pengamat Islam yang menguntungkan FPI, atau statemen-statemen pejabat negara, dalam hal ini kepolisian, untuk memposisikan FPI sebagai pihak yang tidak dirugikan. Hidayatullah.com bahkan tidak ragu menyebut adanya upaya pembunuhan atas apa yang terjadi pada Sabtu (11/2) yang lalu.

Media ini mengutip pernyataan Wasekjen FPI, KH. Awit Masyhuri yang menyebut ada pihak-pihak yang khawatir kepentingan ekonominya terganggu dengan kedatangan FPI. Menurut Awit, sebulan lalu delegasi warga Dayak Kalteng dari berbagai agama mendatangi DPP FPI di Petamburan untuk meminta bantuan untuk menghadapi arogansi Gubernur Kalteng dan Kapolda Kalteng tentang konflik agraria seperti Kasus Mesuji– Lampung.

Voice of Al-Islam atau VOA-Islam.com lebih keras lagi menyebut Dayak Kafir atas apa yang terjadi dengan FPI. Media ini juga menunjukkan pembelaan terhadap Habib Rizieq Shihab dan seluruh pendukungnya. Hal ini jelas karena posisi media ini adalah sesuai dengan visi dan misinya yang khawatir dengan nasib umat Islam yang semakin termarjinalkan dengan kelompok-kelompok Kapitalis dan Zionis.

Eramuslim.com yang lebih dulu menjadi portal berita dunia Islam juga membela FPI. Ada yang menarik dari tulisan editorial Media Islam Rujukan ini. Editorial berjudul “Mengapa Menolak Habib Rizieq?” mempertanyakan sikap ambivalensi media terhadap pelaku-pelaku kekerasan di tanah air.
Dalam tulisan itu, Eramuslim mengkritisi arti kekerasan yang sering disematkan pada FPI. Padahal, pada kenyataannya, banyak kekerasan-kekerasan yang dialami umat Islam di daerah, justru dilakukan kelompok-kelompok non-muslim, namun hal itu tidak diungkap media-media massa mainstream.

Dalam kerusuhan Madura vs Dayak, Eramuslim.com mengungkit kembali kerusuhan antara Muslim vs Kristen. Selengkapnya bisa dilihat http://www.eramuslim.com/editorial/mengapa-menolak-habib-riziq.htm
Arrahmah.com yang mengusung tagline Berita Dunia Islam & Berita Jihad Terdepan, mengeluarkan sikap redaksi yang keras. Meminjam pernyataan Ketua bidang Nahi Munkar DPP FPI Munarman, media online ini menghalalkan darah kafir harbi yang menghalang-halangi dakwah Islamiyah.

Bahkan, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, dicap sebagai kafir harbi yang darahnya halal untuk ditumpahkan. Beritanya ada disini: http://arrahmah.com/read/2012/02/11/17991-munarman-kafir-yang-menghalangi-dakwah-adalah-kafir-harbi-halal-darahnya.html

Kebenaran Hakikat vs Kebenaran Prosedural
Dari uraian pemberitaan di atas, terbukti bahwa media-media memiliki banyak kepentingan, bisa ideologis, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Awak redaksi akan menentukan seperti apa wajah media tersebut. Seorang muslimkah dia, liberal, agnostik, kejawen dan sebagainya, akan mempengaruhi berita-berita yang disuguhkan.

Pembaca pun hanya menjadi penonton, yang jika tidak hati-hati dan cerdas, akan terhanyut dan terombang-ambing dalam pusaran informasi yang begitu deras dan terbuka. Independensi media massa pun dipertanyakan, jika melihat dari pemberitaan FPI.

Bahkan, media berperan besar dalam menstigmakan FPI sebagai organisasi pro-kekerasan. Bayangkan saja, setiap ada penggerebekan yang dilakukan FPI, maka jurnalis televisi akan selalu hadir. Tayangan video itu lalu disiarkan secara langsung di setiap program berita. Masyarakat pun tercengang dengan apa yang disaksikannya. Jadilah, FPI tertuduh sebagai ormas kekerasan.
Apakah kekerasan hanya dilakukan FPI? Jawabnya tidak. Kita semua tahu bahwa pelaku kerusuhan di daerah banyak juga yang dilakukan oleh non-muslim. Namun, porsi pemberitaannya tidak sama dengan apa yang dilakukan FPI.

Jika kita melihat hakikat yang dilakukan FPI, maka kebenaran yang diusung tidak terbantahkan. Maksudnya begini, siapa pun pasti setuju bahwa minuman keras, prostitusi, perjudian dan sejenisnya adalah tindak kejahatan yang harus diberantas. Tidak perlu ditanya betapa banyak bukti kehancuran akibat perbuatan-perbuatan tersebut. Kecuali bagi penganut adanya kebenaran relatif, maka hal-hal tersebut tentu tidak berlaku.

Apa yang dilakukan FPI secara hakikat adalah benar, karena mereka menghilangkan penyakit sosial masyarakat yang sudah endemik. Kekerasan yang mereka lakukan biasanya menjadi pilihan terakhir, karena adanya kelompok penentang. Pun hingga saat ini, kekerasan itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
Bandingkan dengan kekerasan di daerah, misalnya Ambon, Poso, Bima, Makassar dan lainnya sebagainya, yang menyebabkan korban meninggal dunia. Kebenaran hakikat yang diyakini FPI bertabrakan dengan kebenaran prosedural yang ditetapkan dalam kehidupan masyarakat.
Ambil contoh kasus Perda Miras yang ramai beberapa waktu lalu. Kementerian Dalam Negeri berdalih Perda-perda Miras bertentangan dengan Keputusan Presiden Nomor 3 tahun 1997. Oleh sebab itu, muncul wacana pencabutan Perda-perda tersebut.

Secara prosedural perundang-undangan, upaya Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi benar untuk mencabut Perda-perda tersebut. Tapi, secara hakikat, dia akan bertabrakan dengan kebenaran yang diyakini umat Islam secara mayoritas.
Inilah contoh kasus yang menyebabkan lahirnya kelompok-kelompok seperti FPI. Selama kebenaran prosedural tidak berdasarkan kebenaran hakikat, maka akan selalu lahir generasi pembela Islam. Dan, bagi mereka yang sungguh-sungguh memerangi FPI dikhawatirkan terjangkit penyakit Islamophobia yang wabahnya sudah mendunia. (*)


Kutipan :
Mohamad Fadhilah Zein 
Rabu, 15 Feb 2012

Habib Rizieq: Pelaku Percobaan Pembunuhan Ustadz FPI itu Preman Rasis Fasis Anarkis

JAKARTA (voa-islam.com) – Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menengarai para pelaku percobaan pembunuhan terhadap empat ustadz dari DPP FPI sebagai gerombolan preman. Ribuan massa itu adalah preman rasis, fasis dan anarkis yang didukung Gubernur Kalteng, Kapolda Kalteng, bandar narkoba dan koruptor.

Gerombolan preman ini, jelas Habib, mendapat dukungan dari empat oknum, yaitu Gubernur Kalteng, Kapolda Kalteng, bandar narkoba dan terpidana kasus korupsi.
“Pelaku upaya pembunuhan para delegasi Pimpinan FPI Pusat di Palangkaraya adalah gerombolan preman rasis fasis anarkis. Mereka adalah binaan Gubernur Kalteng Teras Narang yang diback-up Kapolda Kalteng Damianus Zacky, melalui operator Yansen Binti dan Lukas Tingkes,” ujar Habib dalam pesan singkatnya kepada voa-islam.com, Rabu (15/2/2012). “Yansen Binti, diduga sebagai Bandar Narkoba, sedangkan Lukas Tingkes adalah terpidana korupsi dengan Putusan PK pada bulan Desember 2011 yang  sudah inkrah tapi Kejaksaan takut mengeksekusi,” tambahnya.

Habib menengarai, percobaan pembunuhan terhadap empat pengurus DPP FPI itu dilakukan untuk menghalangi kehadiran FPI di Kalteng. Motifnya, masih menurut Habib, adalah untuk menutupi kebobrokan penguasa setempat, seperti kasus tragedi Mesuji. “Mereka semua ketakutan dibongkar kebobrokannya oleh FPI, karena FPI sedang membela Dayak Seruyan yang  dizalimi penguasa dan pengusaha serta preman di Kabupaten Seruyan Kalteng. Ini seperti kasus Mesuji di Lampung,” jelasnya.


Kutipan :
[taz, wid]
Rabu, 15 Feb 2012

Ustadz Baasyir: Dukung FPI, Hadapi Dayak Kafir & JIL dengan Jihad!!!

JAKARTA (voa-islam.com) – Dinginnya sel penjara tak membuat semangat jihad ustadz Abu Bakar Ba’asyir membeku. Ulama sepuh yang saat ini menjalani vonis 9 tahun penjara di bareskrim Mabes Polri itu terus menggelorakan semangat jihad. Ia juga menyampaikan keprihatinannnya atas insiden pengahadangan dan upaya pembunuhan terhadap Pimpinan FPI di Kalteng.

Beliau mengutuk aksi para preman Dayak kafir yang menurut pimpinan FPI Habib Rizieq Shihab dikendalikan para elit pemerintah daerah di antaranya Gubernur Kalteng Teras Narang.
Menurut ustadz Abu Bakar Ba’asyir FPI harus melawan orang-orang kafir tersebut dengan jihad sebab orang-orang kafir seperti mereka tidak bisa hanya dinasehati.
“Harus dilawan dengan semangat jihad sebab orang-orang kafir itu tidak bisa dinasehati, dalilnya banyak di antaranya:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Q.S. Al Baqarah : 6),” Jelas ustadz Abu.
Saat dikunjungi di sel Bareskrim Mabes Polri Selasa (15/12/2012) kemarin, selain mendengar info soal insiden penghadangan pimpinan FPI ustadz Abu Bakar Ba’asyir juga menanyakan informasi tentang JIL (Jaringan Islam Liberal) dan antek-anteknya yang sedang mengadakan demonstrasi di bundaran HI untuk menolak FPI.

Ustadz Abu menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh FPI dalam melakukan nahi munkar sudah benar, maka tak heran jika banyak yang membenci FPI seperti JIL dan antek-antekya.
"Apa yg dilakukan oleh FPI itu sudah benar, yakni nahyul munkar, ini sudah sesuai dengan syariat. Karena itu orang-orang kafir dan antek-anteknya seperti JIL dan lain-lainnya itu memang tidak suka dan benci. Karenanya mereka berbagai macam cara terus menghalang-halangi FPI,” tuturnya.

Amir JAT tersebut juga menegaskan bahwa dirinya mendukung FPI untuk menghadapi orang-orang kafir dengan jihad sebab dengan jihad itulah Allah akan menurunkan karomahNya.
“Oleh karena itu saran saya FPI harus tegas menghadapi mereka itu. Serta kobarkan semangat Jihad untuk melawan mereka, dan kita dukung FPI. Kalau FPI berani kerahkan pasukan untuk perang nanti akan ada karomah dari Allah,” tutupnya. [El Raid]

Indonesia Tanpa Kaum Fasik, Bubarkan Jaringan Iblis Laknatullah (JIL)

JAKARTA (VoA-Islam) – Kaum fasik Jaringan Islam Liberal (JIL) atau sebut saja Jaringan Iblis Laknatullah (JIL) kemarin, Selasa (14/2) berkumpul di Bunderan Hotel Indonesia pukul 16.00 WIB. Jumlah mereka segelintir saja, hanya kumpulan makhluk bertatto, waria, homo dan lesbian serta para penghujat Islam.

Diantara gerombolan itu, terdapat dedengkot JIL, Ulil Absar Abdalla, Guntur Romli, Hanung Bramantyo (Sutradara), dan Jajang C Noer (Seniman). Di Bunderan HI tersebut mereka meneriakkan yel-yel “Indonesia Tanpa FPI, Indonesia Tanpa Kekerasan”.

Enam juru bicara Gerakan Indonesia Tanpa FPI itu (Vivi, Jo, Mariana, Tunggal, Ega, Faiza) dalam sebuah press release-nya, menyatakan sikapnya paranoidnya terhadap Front Pembela Islam (FPI) yang selama ini selalu berada di garis terdepan untuk membela kaum muslimin yang terzalimi.    

Kaum fasik itu menuding FPI sebagai organisasi penebar kebencian. Padahal JIL itu sendiri yang mengumbar kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin dengan menciptakan opini public melalui kekuatan media massa. Mereka kerap berkedok HAM, Aksi Damai, dan Tanpa Kekerasan.  Mereka berdusta atas nama perdamaian.

Hingga menjelang Maghrib, Aliansi kaum Sepilis terus memancing dan memprovokasi masyarakat. Mereka menantang, menunggu kedatangan FPI. Inilah bukti, slogan damai yang diusung kelompok liberal omong kosong belaka. Mereka tak ubahnya bara api yang hendak membakar amarah rakyat Indonesia.
Dengan mulut kotornya, Gerakan Sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme) itu juga menuduh aparat kepolisian impoten ketika berhadapan dengan FPI. Bahkan mereka memfitnah FPI didanai oleh beberapa petinggi kepolisian. Kaum munafik itu gusar, ketika Juru Bicara Kepolisian Boy Rafly Amar mengakui bahwa FPI adalah rekanan kepolisian.

Mereka juga menuduh FPI sama sekali tidak membela sebuah agama, melainkan alat untuk menebar benih teror dan ketakutan di tengah masyarakat. Padahal JIL yang dinahkodai oleh Ulil Absar Abdalla dan Guntur Romli, justru membuat akidah umat Islam menjadi rusak, menebar benih kebobrokan bagi masyarakat.  Mengingat kelompok JIL ini selalu mengkampanyekan Free Sex, Homo-Lesbian, membela eksistensi kaum waria, melegalkan ganja dan miras, dan kerusakan lainnya.

JIL Organisasi Radikal
Siapa bilang JIL itu bukan organisasi radikal. Lihatlah, bagaimana cara Ulil Absar Abdalla mengalihkan isu partai di Demokrat yang merosot popularitasnya, dihajar lawan-lawan politiknya, tiba-tiba menghembuskan isu pembubaran FPI. Yang jelas ini bukan kali pertama, Ulil cs bernafsu membubarkan FPI. Terlebih, saat ini DPR sedang membahas RUU Ormas. Inilah cara JIL dan sejenisnya, hendak menggolkan RUU Ormas, yang targetnya adalah untuk mengebiri organisasi Islam seperti FPI.

Aneh bin ajaib, jika kaum fasik Sepilis itu mendesak pemerintah untuk membubarkan FPI, dan menangkap semua anggota FPI. Padahal yang seharusnya ditangkap dan dibubarkan adalah JIL dan kelompok liberal lainnya yang sudah terbukti memberikan kontribusinya dalam merusak akidah dan moral umat.

Dedengkot JIL, Ulil yang pernah divonis hukuman mati oleh alim ulama di Bandung ini sepertinya terus mencari penyakit. Lelaki pengumbar sahwat liberal, sekuler dan pluralisme ini terus mengumbar kebencian kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya kaum muslimin di sejumlah daerah, agar membenci FPI. Ulil sadar bahwa dirinya adalah provokator sesungguhnya.

Ketika tiada lagi pembela, FPI tampil sebagai pembela kaum muslimin. Ketika harga diri umat Islam terinjak-injak dan tercabik-cabik, FPI maju ke garis terdepan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum muslimin. Ketika lingkungan kita dirusak kaum fasik (dekadensi moral), FPI berbuat untuk menyadarkan para pendosa. Ketika saudara sebangsa tertimpa musibah bencana alam, FPI mengerahkan tenaga untuk membantu.  

Yuk kita senandungkan yel-yel: “Indonesia Tanpa JIL, Indonesia Tanpa Komparador Asing, Sudahi Kebobrokan Detik Ini”  Juga.


Kutipan :
Desastian / VOA
Rabu, 15 Feb 2012

Nekad, Kaum Fasik JIL Cari Penyakit, Menantang FPI di Bunderan HI

JAKARTA (VoA-Islam) – Setelah berorasi dan menggelorakan yel-yel Indonesia Tanpa FPI, kaum fasik Jaringan Islam Liberal (JIL) atau sebut saja Jaringan Iblis Laknatullah, menantang Front Pembela Islam (FPI) dengan menunggu di depan Bunderan HI. Sepertinya mereka siap berdarah-darah, meski slogan yang diusung adalah anti kekerasan dan damai.

Salah seorang koordinator lapangan (korlap) Gerakan Tanpa FPI bernama Vivi yang terus memprovokasi masyarakat dan para pengunjuk rasa agar bertahan di bunderan HI untuk menunggu kedatangan FPI yang kabarnya sedang bergerak ke HI. “Ayo teman-teman, yang berani, bertahan di sini, kita lawan FPI,” teriak Vivi sang korlap.

Rupanya, dedengkot JIL, Ulil Absar Abdalla, Guntur Romli, termasuk Hanung Bramantyo juga sedang menunggu-nunggu kedatangan FPI. Menunggu kedatangan FPI sama saja mencari penyakit. Dalam pemantauan Voa-Islam, gerakan sepilis akan menuju ke Kantor LBH, jika laskar FPI betul-betul datang.
Lama tak ditunggu, FPI tak datang-datang juga. Mereka terus berorasi dan mengumbarkan syahwat kebenciannya terhadap FPI. Perlu diketahui, Kaum Sepilis, bukan sedang mengkampanyekan anti kekerasan, melainkan anti FPI. Mereka berkedok  cinta damai, padahal seperti memantik api di tengah kerumunan.

Siapa sesungguhnya yang menyukai kekerasan? Siapa sesungguhnya yang memutarbalikkan fakta? Siapa sebenarnya yang terlebih dulu menabuh genderang perang? Tak lain mereka adalah kaum fasik Jaringan Islam Liberal (JIL) atau lebih tepatnya Jaringan Iblis Laknatullah. Mereka berupaya memancing kemarahan rakyat Indonesia untuk membenci FPI tanpa alasan yang jelas.

Mereka memutarbalikkan fakta apa sesungguhnya yang terjadi di Palangkaraya, dimana FPI dalam posisi terzalimi, dihadang gerombolan preman di landasan pesawat Bandara Palangkaraya, belum lama ini.
Kabar FPI akan menyerang kaum sepilis di bunderan HI adalah rumor belaka. Isu itu sengaja dihembuskan agar target mereka menyeret  FPI ke  meja hijau, seperti Insiden Monas kembali terulang. Yang jelas, FPI cinta damai, yang lebih mengedepankan dialog. FPI tak mudah terprovokasi dengan mulut-mulut kebencian yang diumbar kaum fasik Jaringan Iblis Laknatullah (JIL). ()


Kutipan :
Desastian / VOA
Rabu, 15 Feb 2012

FPI Dinilai Lecehkan Warga Dayak

FPI Dinilai Lecehkan Warga Dayak
Sejumlah warga Dayak di Kalimantan Tengah menolak kehadiran FPI.

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKA RAYA - Pernyataan pengurus Front Pembela Islam (FPI) di beberapa media massa dinilai sudah melecehkan warga Dayak dengan menyebarkan fitnah yang tidak mendasar tanpa bukti nyata.

"Kami merasa itu fitnah yang sudah sangat keterlaluan, sebab tanpa bukti yang jelas mereka telah menghina, menghujat, dan menjelek-jelekan Suku Dayak serta mencoba melarikan masalah ke arah memecah belah persaudaran antarumat beragama di Kalteng," kata Ketua Umum Gerakan Pemuda Dayak Indonesia (GPDI) Kalimantan Tengah (Kalteng), Yansen Binti di Palangka Raya, Rabu (15/2).

Pihaknya meminta pemerintah pusat dan kepolisian segera menindaklanjuti masalah tersebut sesuai hukum yang berlaku. Sebab, penolakan FPI di Kalteng adalah keinginan sebagian besar masyarakat yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan golongan.

Ia mengatakan, selama ini FPI selalu memberi pernyataan palsu melalui media massa yang mencoba mencemarkan nama baik orang lain. "Salah satunya saya dituduh sebagai gembong narkoba di Kalteng, dan tudingan tersebut tidak ada data atau bukti yang jelas. Oleh karena itu, kami juga telah membentuk tim kuasa hukum untuk menindaklanjuti masalah tersebut," ucapnya.

Yansen menjelaskan, sampai saat ini dukungan dan pernyataan sikap penolakan FPI terus mengalir dari berbagai kalangan. Hal itu membuktikan bahwa FPI terlalu banyak menunjukkan kontribusi negatif bagi orang lain.

Menanggapi pernyataan Budiardi yang mengaku sebagai perwakilan masyarakat Dayak mendukung FPI, itu dinilai hanya pernyataan pribadi dan tidak mewakili warga Dayak secara keseluruhan. Sebab, yang bersangkutan sendiri saat ini tidak memiliki pendukung untuk membuktikan hal tersebut.

"Kalau nantinya pemerintah tidak bisa menuntaskan masalah FPI melalui jalur hukum positif, maka kemungkinan besar kami akan menggunakan hukum adat Dayak. Sebab, FPI sudah mencemarkan nama baik suku Dayak dengan tudingan yang tidak mendasar dan fitnah," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang mengimbau seluruh masyarakat tidak mudah terpancing dengan isu yang dikeluarkan FPI atau oknum lain dengan tujuan merusak rasa persaudaraan antarumat beragama di daerah tersebut.

"Saya minta masyarakat Kalteng, semua ormas, adat dan lain sebagainya tidak terpancing terhadap adanya upaya mengadu domba terhadap rakyat di Kalteng, sebab semua permasalahan sudah selesai," ungkap Teras.

Terkait dengan laporan FPI ke Mabes Polri, Teras menyerahkan sepenuhnya kepada Kepolisian sehingga pada saatnya nanti pihaknya akan melihat apa yang harus dilakukan berkenaan dengan tuduhan yang tidak berdasar tersebut.
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
 
Kutipan :
Republika co id
Rabu, 15 Pebruari 2012 19:52 WIB

Gerombolan bajingan rasisme fasisme anarkisme pimpinan Teras Narang-lah dibalik upaya pembunuhan delegasi FPI!

JAKARTA (Arrahmah.com) – Tragedi upaya pembunuhan terhadap Delegasi pimpinan Front Pembela Islam (FPI) pusat telah memicu banyak kecaman dan dukungan. Isu ini semakin memanas, lantaran pemerintah kafir dan pasukannya telah menyulut api peperangan dengan Umat Islam. Sekarang di media-media kafir santer membicarakan FPI. Tentu saja yang paling tinggi suaranya adalah para pasukan kafir dengan slogan “tolak FPI”, “FPI penebar kekerasan”.

Penghadangan delegasi pimpinan FPI Pusat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengan (Kalteng) pada hari Sabtu (11/2/2012), nampak janggal dan sarat dengan unsur politis. Menurut Habib Muhammad Riziq Syihab (Ketua Umum FPI), ada skenario janggal berupa penyesatan opini publik bahwa seakan-akan keberadaan FPI di Kalteng dapat mengganggu kestabilan masyarakat terutama Suku Dayak. Padahal, selama ini FPI telah memiliki hubungan baik dengan berbagai suku Dayak se-Kalimantan.

Habib Rizieq mengaskan bahwa, ribuan massa penghadang yang berusaha membunuh Delegasi FPI bukanlah warga Dayak asli melainkan orang-orang binaan Gubernur Kalteng, Teras Narang CS yang mengklaim sebagai suku Dayak.
“Pelaku rencana upaya pembunuhan Delegasi Pimpinan FPI Pusat di Palangkaraya bukan Dayak (muslim/non muslim), tapi gerombolan PREMAN RASIS FASIS ANARKIS binaan Gubernur Kalteng, Teras Narang, yang di back-up Kapolda Kalteng, Damanianus Zacky, dengan operator Yansen binti (Diduga Bandar Narkoba) dan Lukas Tingkes (Terpidana Korupsi dengan putusan PK Desember 2011 yang sudah diputuskan tetapi kejaksaan takut mengeksekusinya)”, tegas Habib Rizieq.

Habib Rizieq yakin penolakan FPI di Kalteng diakarenakan takut kebobrokan para pejabat korup terbongkar.
“Mereka semua ketakutan dibongkar kebobrokannya oleh FPI, krena FPI sedang membela Dayak Seruyan yang dizalimi penguasa dan pengusaha serta preman di Kab.Seruyan – Kalteng seperti Kasus Mesuji – Lampung,” ujar Habib.

Anehnya, media-media kafir (sekuler-liberal)  menutup anarkisme Teras Narang CS, jutru aktif membentuk opini pembubaran FPI. Licik, FPI yang sedang jadi korban, tapi justru FPI yang dituduh dan dihukum.
Tak hanya lewat media, pasukan kafir dan munafik bergabung untuk berkoar-koar di jalanan. Kemarin, (Selasa (14/2) gerombolan JIL (baca: Jaringan Iblis Laknatullah) berdemo atas nama “Indonesia Tanpa FPI”, di depan Plasa Indonesia, Jl. Kebon Kacang, Jakarta Pusat, seperti yang dilaporkan suara islam online.

Aksi demo dihadiri oleh para gembong Liberal, tak terkecuali Inayah Wahid (putri Gus dur) dengan dikawal 100 polisi. Demo tersebut dilakukan untuk mendukung tindakan anarkis yang dilakukan para preman RASIS FASIS ANARKIS yang mengatasnamakan suku Dayak yang berupaya membunuh empat pimpinan FPI.
Dari pagi hingga sore, mereka hanya berkoar “Indonesia tanpa FPI, Indonesia tanpa Kekerasan”. Gerombolan JIL itu menuduh bahwa FPI lah pelaku kekerasan di Indonesia. Mereka memang buta, sehingga tidak dapat melihat bahwa para anggota FPI lah yang menjadi korban percobaan pembunuhan. Bukti, bersekongkolnya aparat, pejabat, dengan gerombolan kafirin dan munafikin.

Ketika Umat Islam bertindak yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka (kafirin dan munafikin), sekecil apa-pun (yang telah dicap sebagai kekerasan oleh mereka), maka pemimpin dan para pasukannya (kafirin dan munafikin) akan “berjama’ah” menyusun strategi, memutar balikan fakta, mengambil kesempatan untuk mendoktrin masyarakat awam, di setiap lini.

“Mari kita tonton bersama apa yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat  terhadap gerombolan bajingan RASIS FASIS ANARKIS pimpinan Teras Narang yang melakukan penerobosan objek vital Bandara, pengepungan pesawat dengan senjata, perusakan rumah panitia perayaan Maulid Nabi, pembakaran tenda dan panggung Da’wah Islam, percobaan pembunuhan Pimpinan ormas Islam, pengepungan rumah dinas Bupati Kuala Kapuas”, jelas Habib.

Tonton juga gonggongan Anjing Liberal selanjutnya yang membela para bajingan Anarkis tersebut.
Habib juga menambahkan, “Apakah pemerintah SBY akan menegakkan hukum, atau justru ikut memanfaatkan masalah untuk GEBUK FPI untuk mengalihkan isu korupsi yang sedang menghantam petinggi partai Demokrat ?!!”, Kita lihat saja.


Kutipan :
Siraaj / Arrahmah
Rabu, 15 Februari 2012 16:05:45

Bramantyo Prijosusilo, budayawan penista Agama digelandang ke kantor polisi

YOGYAKARTA (Arrahmah.com) - Seniman Yogyakarta, Bramantyo Prijosusilo gagal menggelar aksi tunggal di depan Markas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Kotagede Yogyakarta. Belum sempat memulai aksinya, Bramantyo sudah ditarik dan dilawan oleh puluhan anggota laskar MMI. Tarik-menarik dan saling dorong antara polisi dan laskar pun terjadi.

Aksi tunggal yang dilakukan Bramantyo itu bertema “Melawan Radikalisme Agama dengan Seni Atas Nama Pribadi”. Dia melakukan aksinya di depan markas MMI, Jalan Karanglo, Kotagede, Rabu (15/2/2012). Pertunjukan seni yang akan dilakukan berjudul “Membanting Macan Kerah”.


Aksi diawali dari depan kompleks makam Kotagede yang berjarak sekitar 500-an meter dari kantor MMI. Dia mengenakan pakaian Jawa motif lurik warna coklat, ikat kepala/udheng serta membawa sebuah kendi berisi air bunga/kembang macan kerah. Brammantyo menaiki kereta kuda/andong menuju lokasi.

Sebelum aksi dimulai, 40-an anggota laskar Mujahidin sudah jaga-jaga di depan pintu gerbang. Sekitar 100-an anggota Polres Bantul juga ikut berjaga di sekitar Jalan Karanglo.
Saat tiba di depan markas MMI, Bramantyo yang hendak turun dari andong langsung ditarik oleh laskar. Anggota laskar berusaha menarik dan membawa menuju kantor.
Namun dihalangi aparat polisi. Akibatnya terjadi tarik-menarik dan saling dorong antara polisi yang akan mengamankan Bramantyo dengan laskar. Kendi berisi air dan kembang macam kerah itu juga tumpah di tengah jalan.
Polisi kemudian berhasil mengamankan Bram dengan memasukkan ke dalam truk Dalmas untuk dibawa menuju Polsek Banguntapan Bantul. 


Sekretaris MMI, Ust. M. Shabbarin Syakur kepada wartawan mengatakan pihaknya menolak upaya-upaya politisasi seni yang bernuansa SARA dan menuduh ormas agama melakukan penekanan terhadap minoritas. Oleh karena itu MMI meminta Kapolda DIY untuk menangkap Bramantyo untuk diadili dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, karena bisa memicu amarah umat Islam.
“Kami menolak cara-cara seperti ini. Bagi kami siapapun bisa berdialog. Pertunjukan atas nama seni budaya tapi dengan cara menista agama dan membuat fitnah terhadap ormas agama, Majelis Mujahidin. Dia harus meminta maaf kepada semuanya,” kata Ust. Shabbarin.

Budayawan Penista Agama Wajib Ditangkap
Sebelumnya, kemarin Majelis Mujahidin telah mengirimkan laporan Penistaan Agama kepada Kapolda DIY berkaitan aksi yang dilakukan budayawan penista Agama tersebut, berikut isi laporan lengkap yang dikirimkan kepada Kapolda DIY pertanggal (14/2/2012) kemarin yang dimuat dalam situs resmi Majelis Mujahidin (majelismujahidin.com):
Nomor : 202/MM LT/III/1433
Lamp. : 1 berkas
Hal   : Laporan Penistaan Agama
Kepada Ykh.
Kapolda DIY
Di-Yogyakarta
Budayawan Penista Agama Wajib Ditangkap
Siaran Pers yang dilampirkan pada surat Pemberitahuan Pertunjukan Seni oleh Bramantyo Prijosusilo kepada Kapolsek Kotagede Yogyakarta, yang rencananya akan dilaksanakan pada jam 9 pagi hari Rabu, 15  Februari 2012 di depan Markaz Majelis Mujahidin Pusat di Jl. Karanglo No. 94 Kotagede Yogyakarta. Bahwa pertunjukan ini dilakukan atas nama seni budaya, tapi dengan cara menista agama dan memfitnah ormas agama, Majelis Mujahidin.

Bramantyo Prijosusilo, secara dusta dan tidak beradab, telah memfitnah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dengan menyebarkan kebencian di kalangan anggota masyarakat, serta mengadu domba ormas Islam dengan Kesultanan Ngayogjokarto melalui siaran pers yang isinya antara lain:
  1. Mendiskreditkan gerakan Islam yang konsisten terhadap amar ma’ruf nahi mungkar dan penegakan Syari’ah Islam sebagai pemecahbelah dan memicu konflik horizontal.
  2. Menghina MMI sebagai institusi yang menentang dan merampas hak-hak Sultan Ngayogjokarto Hadiningrat.
  3. Menuduh MMI dan Laskar Islam melakukan penekanan terhadap kelompok minoritas.
  4. Menghina dan menistakan agama (Islam) sekaligus melakukan penyesatan dan menghina kaum muslim dengan melecehkan Kitabsuci Al-Qur’an (surat Al-Fatihah) dengan menyatakan bahwa: “Bila seseorang merasa yakin dirinya tidak sesat maka tidak perlu membaca Al-Fatihah. Membaca Al-Fatihah merupakan pengakuan setiap insan, setiap diri yang membutuhkan membacanya, senantiasa berpotensi sesat….”
Berdasarkan tindakan dan siaran pers tersebut, maka Majelis Mujahidin menuntut tindakan yang adil dari pemerintah dan aparat keamanan, dengan Melaporkan Bramantyo Prijosusilo ke Kapolda DIY dan seluruh jajarannya supaya: pertama, menghalau pertunjukan Budayawan Penista Agama Bramantyo Prijosusilo yang melakukan kegiatan Seni bernuansa SARA tersebut di seluruh wilayah Indonesia, khususnyaYogyakarta. Kedua, menangkap yang bersangkutan karena penghinaannya terhadap Agama Islam, yang dikhawatirkan memicu amarah kaum Muslim dan Laskar Islam di Jogjakarta, sehingga mengancam keamanan yang bersangkutan. Ketiga,menuntut Bramantyo Prijosusilo meminta maaf kepada MMI dan kaum muslim. Jika menolak meminta maaf, maka seluruh Perwakilan Majelis Mujahidin akan mencari keberadaannya untuk dimintai pertanggungjawaban, dan menuntutnya hingga yaumul akhir.
Jogjakarta, 21 Rabi’ul Awal 1433 H/ 14 Februari 2011 M
Majelis Mujahidin Indonesia
Tembusan:
  • Kementerian Agama
  • Kementerian Dalam Negeri
  • Mabes Polri
  • DPR
  • Ormas dan Media Massa

Kutipan :
(dtk/ukasyah/arrahmah.com)
Rabu, 23 Rabi'ul Awal 1433 H / 15 Februari 2012