Laman

Jumat, 02 Maret 2012

Gawat! Faham Liberalisme Jadi Materi Khutbah Jumat di Kampung-kampung


JAKARTA  – Dalam acara Milad INSISTS (Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) ke-9 di Jakarta (29/2), salah seorang pendiri INSISTS Hamid Fahmi Zarkasyi,M.phil,Ph.D mengatakan, gagasan dan penyebaran faham liberalisme pemikiran Islam kini tidak saja tersebar di perkotaan, tapi juga merambah ke pedesaan. Bahkan ia pernah mendengar khotib jum’at di sebuah kampung berbicara soal pluralisme , dimana semua agama dikatakan benar.

Menurut Hamid, Indonesia merupakan negara yang terbilang berhasil terserang penyakit Liberalisme agama dibanding negeri-negeri muslim di belahan bumi lainnya seperti di Timur Tengah ataupun di Afrika. Hal itu terjadi karena adanya peran media dalam penyebarannya.

Belum lama ini, Hamid juga mendengar, di IAIN Jember, ada seorang dosen “gila” yang melempar Al Qur’an ke lantai. Dalam pemikiran dosen laknatullah itu, Al-Qur’an itu bukan kitab suci. Yang mengkhawatirkan lagi, saat ini sudah ada perguruan tinggi yang membuka program S3 bidang Pluralisme Agama.

Seperti diketahui, arus liberalisme juga dibawa oleh para mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi untuk kemudian disebarkan hingga ke pedesaan. Mereka merasa dengan wacana liberalisme akan dilihat sebagai orang terpelajar di kampungnya Maka adalah wajar jika nilai-nilai tradisional Islam sudah kian luntur di pedesaan saat ini.“Orang desa sekarang ini sudah mulai mengalami westernisasi,” kata Alumnus IIUM Malaysia ini.

Untuk membendung arus liberalisme pedesaan, Hamid yang baru saja diamanahkan menjadi ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), menyarankan, agar menciptakan komunitas di kota-kota besar. Komunitas itu menciptakan komunitas lagi dibawahnya. Nah mereka-mereka itulah yang akan menjelaskan tentang bahaya faham liberal kepada masyarakat. Tentu, hal yang sangat memperihatinkan, jika masyarakat mengira bahwa apa yang dikatakan oleh si tokoh tentang pluralism itu adalah sesuatu hal yang benar.
Dalam menghadapi pengasong sepilis (sekularisme, pluralism dan liberalism), kata Hamid, hendaknya mendatangi mereka, ajak diskusi, sampai dia menyerah. “Sejujurnya, kita kerap memikirkan pemikiran orang lain, sementara orang lain tidak ada yang memikirkan kita,” ujarnya guyon.

Sementara itu Direktur Eksekutif  INSISTS, Adnin Armas mengatakan penyebaran kebaikan dengan ilmu harus dilakukan di Indonesia. Usia INSISTS memang masih sangat muda, baru sembilan tahun. Tapi ini adalah usia permulaan untuk kerja besar yang akan terus dilaksanakan dan coba diemban oleh INSISTS, berusaha menghidupkan tradisi Ilmu bagi Indonesia. Bangsa Indonesia tidak mungkin akan menjadi bangsa besar jika mengabaikan tradisi ilmu ini.

Dewan Pembina dan Pendiri INSISTS, Adian Husaini mengatakan tidak menyangka INSISTS bisa berkembang dalam pemikiran Islam dan telah mengadakan workshop yang diikuti pimpinan pondok pesantren dan kampus. “Pemikiran Islam saat ini bertarung dengan pemikiran liberal. Karena itu, INSISTS berfokus pada pemikiran dan kajian yang mendalam tentang peradaban Islam," tuturnya. 

Kutipan :
Desastian / VoA-Islam
Jum'at, 02 Mar 2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar