Laman

Senin, 23 April 2012

Ustadz Asadullah: Diisolasi & Dianiaya Napi Kristen Hingga Hampir Buta



AMBON - Menyampaikan kebenaran dinul Islam memang beresiko. Berapa banyak diantara para ulama salafus shalih yang akhirnya disiksa, dijebloskan kedalam penjara, hingga dibunuh karena berani menyampaikan kebenaran.

Nasib yang sama ternyata dialami oleh ustadz Assadullah alias Arsyad alias Sulton, seorang da’i dan mujahid asal Madura yang pernah turut berjihad di Ambon.  Sekarang ustadz Assadullah menjadi narapidana karena ditutuduh terlibat kasus terorisme. Ia divonis dengan hukuman penjara 15 tahun dan kini menjalani hukuman di LP Kelas IIA Ambon.

Sebagai seorang da'i, ustadz Assadullah giat berdakwah terhadap sesama napi muslim yang ada di LP. Karena wawasannya yang luas tentang kristologi, tak jarang ia diajak berdialog tentang perbandingan agama  oleh orang-orang  non muslim.

Alhamdulillah, melalui dialog inilah Ustadz Assadullah pernah mengislamkan dua orang warga Myanmar yang beragama Hindu ketika berada di Rutan Ambon.
Namun proses dakwah yang dilakukan oleh ustadz Assadullah ternyata tidak selamanya mulus dan tanpa hambatan.
...Melalui dialog inilah Ustadz Assadullah pernah mengislamkan dua orang warga Myanmar yang beragama Hindu ketika berada di Rutan Ambon...
Baru-baru ini ustadz Assadullah dimasukkan kedalam sel isolasi setelah berdialog dengan Napi Nasrani (Murtadin sebelumnya muslim). Hasil investigasi  voa-islam.com ternyata membuka tabir keganjilan permasalahan tersebut.

Dialog Ilmiah Berbuah Petaka
Ummu Najih, istri ustadz Assadullah menceritakan, mulanya ada seorang napi Kristen bernama Wahyu. Murtadin asal Purwokerto Jawa Tengah ini mengajak ustadz Assadullah berdialog tentang persoalan agama.
Setelah berdialog, ternyata Wahyu  tidak bisa menerima penjelasan ustadz Assadullah secara lapang dada.  Kemudian murtadin  Wahyu ini memprovokasi napi-napi Kristen Ambon  dengan menyampaikan apa isi dialog tersebut secara bias.

Perlu diketahui bahwa di LP Ambon yang ditempati oleh ustadz Asadullah, mayoritas pegawai dan napinya terdiri dari orang-orang Kristen, kecuali Kalapas yang beragama Islam.  
Apa yang disampaikan oleh Wahyu secara provokatif kepada napi-napi Ambon Kristen menimbulkan akhirnya menimbulkan reaksi. Para napi Kristen tersebut kemudian melaporkan ustadz Assadullah kepada petugas LP dengan tuduhan melakukan pelecehan agama.
...Karena wawasannya yang luas tentang kristologi, tak jarang ia diajak berdialog tentang perbandingan agama  oleh orang-orang  non muslim...
Setelah menerima laporan dusta tersebut, petugas LP memanggil Ustadz Assadullah, lalu menyidangnya, kemudian memasukannya kedalam sel isolasi dan tidak boleh dikunjungi.
Padahal, sebenarnya tidak ada pelecehan agama yang dolontarkan ustadz Assadullah dalam dialog tersebut. Menurut keterangan petugas lapas, Ustadz Assadullah mengatakan bahwa ucapan Yesus dalam Injil hanya 18% yang benar sedangkan 82% salah.

Menurut Ustadz Wencelclaus Insan Mokoginta, pakar kristologi yang juga mantan aktivis Katolik, argumen Asaddullah itu sangat ilmiah dan tidak mengada-ada, karena hanya mengutip referensi Kristen sendiri. Ustadz Insan yang telah menulis puluhan buku kajian kristologi ini menjelaskan, hasil penelitian 72 profesor dan pakar Bibel kaliber internasional yang tergabung dalam “The Jesus Seminar,”  menyimpulkan bahwa 82 persen kalimat yang redaksinya diucapkan Yesus di dalam kitab-kitab Injil, sebenarnya tidak pernah disabdakan oleh Yesus sama sekali. Pernyataan ini telah ditulis Robert W Funk, Roy W Hoover dan The Jesus Seminar dalam kitab monumental, The Five Gospels, What did Jesus Really Say? pada halaman 5 sebagai berikut:
“Eighty-two percent of  the words ascribed to Jesus in the Gospels were not actually spoken by him.” (Delapan puluh dua persen kalimat yang disebut-sebut sebagai ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh Yesus).
...argumen Asaddullah itu sangat ilmiah dan tidak mengada-ada, karena hanya mengutip referensi Kristen sendiri...
Meski argumen ini cukup ilmiah, namun Ustadz Assadullah masuk sel isolasi sejak tanggal 7 April 2012 lalu dan sampai sekarang belum bisa dibesuk meskipun oleh keluarganya.

Mendengar  terjadinya kezhaliman yang menimpa ustadz Asadullah dari sang istri, pada kamis (19/4/2012) watawan voa-islam.com bersama beberapa orang yang turut membesuk  lalu bergegas menyambangi  LP kelas IIA Ambon, guna mengecek kebenaran informasi tersebut kepada Kepala Lapas (Kalapas).
Ketika hendak bertemu dan wawancara Kalapas kesimpangsiuran pun nampak dari petugas Lapas. seorang petugas wanita mengatakan bahwa Kalapas tidak ada, tapi seorang petugas laki-laki lainnya justru mengatakan Kalapas ada.

Dengan alasan yang berbelit-belit maka Kalapas pun menolak diwawancara, alasannya untuk mewawancarai Kalapas harus ada izin dari Kanwil terlebih dahulu, namun ketika ditanya peraturan mana yang mengaharuskan izin tersebut? Petugas tidak menjawabnya.

Dari informasi yang dihimpun voa-islam.com, alasan penempatan ustadz Asadullah di sel isolasi untuk mencegah pengeroyokan  napi Ambon Kristen terhadap ustadz Asadullah.  Namun tentu saja alasan ini tak masuk akal dan berlebihan, sebab jika memang demikian, mengapa keluarga ustadz Asadullah juga dilarang membesuk?

Penderitaan ustadz Assadullah tak hanya itu. Menurut keterangan sang istri, tanpa alasan yang jelas, ustadz Assadullah juga pernah mengalami penganiayaan dari sejumlah napi Ambon Kristen. Penganiayaan tersebut terjadi dua tahun lalu dan hampir-hampir mengakibatkan ustadz Assadullah buta matanya.

Menurut Ummu Najih ketika itu suaminya dikeroyok para napi Ambon Kristen setelah terlebih dahulu memukuli ustadz Assadullah pada bagian mata dan kepalanya. Ustadz Assadullah dipukul dengan menggunakan batu dan kayu. Akibat pengeroyokan tersebut ustadz Assadullah luka parah dan hingga kini kedua matanya mengalami gangguan dan tidak normal lagi.
Anehnya ketika terjadi pengeroyokan tersebut para petugas LP tidak mampu mencegahnya dan cenderung ada pembiaran.

Dengan pertimbangan keselamatan itulah Ummu Najih menyampaikan kepada voa-islam.com bahwa ia berniat mengurus kepindahan suaminya ke Pulau jawa. Apalagi ditambah kunjungan besuk yang dipersulit karena sang suami berada di sel isolasi.

Akhirnya pada kesempatan lain, jurnalis voa-islam.com berhasil menghubungi  Kalapas kelas II A, Ambon, Farid Junaedi. Dari ujung telepon ia menyampaikan bahwa keinginan keluarga ustadz Assadullah yang meminta agar tempat penahanannya dipindahkan ke pulau Jawa, bisa diusahakan.
Farid mengatakan pihak keluarga bisa membuat surat permohonan yang diajukan ke Kalapas agar bisa dipindahkan ke LP yang berada di pulau Jawa.

Sampai berita ini dimuat, pihak keluarga masih kesulitan mengurus prosedur kepindahan ustadz Assadullah karena berbagai keterbatasan. 

Kutipan :
AF, Widad / VoA-Islam
Sabtu, 21 Apr 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar