Laman

Rabu, 29 Februari 2012

Cabul di Istana Habib, Melongok Istana Sang Habib

Jakarta, Istana Segaf. Ini adalah nama sebutan untuk markas Habib Hasan bin Jafar Assegaf, yang terletak di Jalan Manggis, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Istana itu merupakan tempat tinggal sekaligus kantor Yayasan Nurul Mustofa (NM) tempat sang habib menggelar pengajian rutin setiap hari.

Istana sang habib terletak di Jalan RM Kahfi I, Gang Manggis, RT 001/RW 01 No. 9A, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Untuk mencari markas sang habib sangat mudah, sebab di mulut jalan papan nama berukuran 3x4 meter bertuliskan Majelis Nurul Mustofa dapat jelas terlihat.

Di depan gang menuju markas sang habib terdapat kios yang menjual buku, kalender, poster Habib Hasan, buku agama Islam, suvenir seperti tasbih, minyak wangi, pakaian muslim hinga pulsa seluler. Semua kios itu dikelola murid-muridnya.

Tepat di belakang kios terdapat pagar besi bercat hijau. Di balik gerbang terdapat rumah petak sebanyak 3 pintu. Rumah ini juga dihuni sejumlah muridnya yang bertugas sebagai penerima tamu. Lebih ke dalam, terdapat bangunan rumah yang cukup besar bercat hijau. Di rumah itulah Habib Hasan tinggal bersama istri dan tiga orang anaknya.

Selain itu, di kawasan itu terdapat aula tempat sang habib menggelar pengajian rutin setiap malam, di luar akhir pekan.

Belakangan, pasca laporan tudingan pencabulan pada mantan jamaahnya, sang habib dikabarkan lebih banyak mengurung diri di dalam "istananya". Ia tidak mau menerima kunjungan tamu lagi. Begitu juga dengan wartawan yang berupaya minta klarifikasi terkait laporan beberapa jamaahnya ke Polda Metro Jaya, 16 Desember 2011.

Majalah detik dan wartawan Antv sempat mendatangi istana sang habib pekan lalu. Namun penjaga rumahnya menolak memperkenankan masuk dengan alasan harus membawa surat tugas dari kantor media masing-masing. Padahal wartawan yang datang sudah dilengkapi ID Card sebagai tanda penugasan liputan. Bahkan seorang jamaahnya langsung memotret wartawan yang datang.

Beberapa hari kemudian majalah detik mencoba mendatangi lagi markas sang habib. Kali ini dibekali surat tugas berikut daftar pertanyaan untuk sang habib. Namun lagi-lagi petugas jaga di Istana Segaf tidak juga memperkenankan majalah detik untuk wawancara.

Bukan hanya di Istana Segaf, Hasan sulit ditemui. Majalah detik juga beberapa kali mendatangi tablig akbar yang telah dijadwalkan akan dihadiri sang habib. Namun setelah dinanti, sang habib tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

Majalah detik juga sempat menyambangi rumah orang tua sang habib di Jalan Lolongok, Empang, Kota Bogor. Di sana merupakan rumah orang tua sang habib. Namun saat didatangi rumah orangtuanya, Syarifah Fatimah, selalu sepi. Bahkan warga setempat mengatakan kalau Habib Hasan sudah tidak pernah lagi datang ke rumah tempat sang habib dilahirkan dan dibesarkan itu.

Menurut beberapa jamaah yang ditemui di rumah sang Habib, untuk menemui Habib Hasan bukanlah perkara mudah. Para santri mengaku tidak terlalu sering bertemu Habib, meski di lokasi yang sama. Kesibukannya berkeliling daerah untuk berdakwah membuat para santri mafhum sulit menemuinya. "Kalau ada pengajian khusus, biasanya ada (Habib)," ujar salah seorang santri yang enggan di sebut namanya.

"Hadiri saja majelisnya," ujarnya. Namun pria yang sudah menyantri di Nurul Mustofa 5 tahun lebih ini pun tidak menjamin dapat menemui habib. Seringkali mereka sendiri mengaku hanya melihat dari layar proyektor.

Mereka juga menolak untuk sekadar menjelaskan kegiatan di yayasan. Sesuai dengan perintah Habib, semua penjelasan hanya dapat disampaikan oleh Habib sendiri.

"Cuma Habib yang dapat memberikan penjelasan, atau lihat saja di web kami," terangnya. Upaya untuk menemui Habib di "Istana Segaf" sebutan untuk pesantren binaannya, juga bukan perkara mudah.

Sejumlah murid seperti dikomando untuk bungkam. Padahal pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sudah menjadwalkan untuk memanggil Habib guna mendengarkan penjelasan Habib pada Rabu, 15 Februari 2012, dan Kamis, 16 Februari 2012. Namun Habib Hasan tidak datang. Yang hadir hanya utusan khusus sang habib, Gondho Yudistiro. “Saya hanya utusan untuk menyampaikan kalau beliau tidak bisa hadir,” kata Gondho setelah menemui KPAI.

"(Habib Hasan) Beliau sibuk berdakwah," kata Abdulrahman, salah seorang pengurus yayasan. Namun kegiatan di Yayasan Nurul Mustofa masih seperti biasa, pada Rabu, 15 Februari 2012, malam.

Sejumlah santri tetap melakukan kegiatan taklim bersalawat selepas magrib. Jumlahnya tidak seramai saat ada kegiatan acara besar.

Setelah azan Isya, mereka melakukan persiapan untuk menggelar tablig akbar pengajian Nurul Mustofa saban malam Minggu.

Beberapa santri tampak sibuk mengangkut perlengkapan, termasuk menerima baju koko dan aksesori lainnya yang dijual di toko milik yayasan. Sementara tumpukan bambu untuk pemasangan umbul-umbul juga dibawa ke atas mobil bak.

"Malam minggu ini ada acara di Utan Kayu," terang salah seorang santri yang ditemui di lokasi pekan lalu. Persiapan rencananya untuk menyambut 25.000 jamaah se-Jabodetabek.

Kegiatan itu sudah dipastikan menutup jalan, mengingat pusat kegiatan hanya di masjid. Layar monitor dan sound system termasuk genset sudah dikerahkan.

Meski diterpa masalah, para santri mengaku jumlah santri setiap kegiatan tablig tidak berkurang. "Bahkan jumlahnya terus bertambah," ujar pria asal Sumatera Utara itu.

Koordinator lapangan Yayasan Nurul Mustofa, Abdulrahman, menjelaskan Habib tidak susah ditemui. Hanya saja setiap usai berdakwah ia selalu kecapaian dan langsung pulang.

Abdulrahman menjelaskan dalam sehari, Habib memiliki kegiatan dakwah cukup banyak. Paling sering dilakukan pada sore hingga malam, bahkan pernah juga sampai pagi dini hari.

Mengenai permasalahan yang menimpa Habib, dia menjelaskan itu semua hanya hasutan dan fitnah. "Umat sedang dipecah belah, kasihan umat jadi kocar-kacir," lanjutnya.

Materi ini telah dimuat di Majalah detik edisi 12 tanggal 20 Februari 2012

Kutipan :
M Rizal,Isfari Hikmat - detikNews
Senin, 27/02/2012 16:11 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar