Laman

Kamis, 08 Maret 2012

Selamat Milad JIL ke-11, Semoga Mendapat Azab Kubur


JAKARTA  – Hari ini, Kamis, 8 Maret 2012, Jaringan Islam Liberal (JIL) merayakan hari ulang tahunnya yang ke-11. Sejak didirikan pada 8 Maret 2001, kelompok diskusi (Milis) Islam Liberal (islamliberal@yahoogroups.com) telah mendiskusikan berbagai hal mengenai Islam, negara, dan isu-isu kemasyarakatan.

Saat awal berdiri, kelompok diskusi ini diikuti oleh lebih dari 200 anggota, termasuk para penulis, intelektual, dan pengamat politik seperti Taufik Adnan Amal, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Eep Saifulloh Fatah, Hadimulyo, Ulil Abshar-Abdalla, Saiful Mujani, Hamid Basyaib, dan Ade Armando. Dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie, diskusi berikut mengangkat isu seputar istilah dan agenda Islam Liberal yang merupakan salah satu tema awal yang muncul dalam Milis tersebut.

Peserta Diskusi yang hadir antara lain: Denny JA, Hamid Basyaib, Ichan Loulembah, Luthfi Assyaukanie, Nirwan Arsuka, Rizal Mallarangeng, Saiful Mujani, Sukidi, Robin Bush, Zulfiani Lubis.
Menurut Luthfi Asy Syaukanie, salah satu pentolan JIL lulusan Melbourne, organisasi (lebih tepatnya gerakan) ini melengkapi munculnya organisasi Islam serupa yang sudah ada lebih dulu seperti, Rahima, Lakpesdam, Puan Amal Hayati, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), serta Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ).

Sejak awal, menurut Luthfi Asy Syaukanie, JIL memang diniatkan sebagai payung atau lebih tepatnya penghubung organisasi Islam Liberal yang ada di Indonesia. Karena itu, gerakan ini tak memakai nama organisasi atau lembaga, tapi jaringan. Dengan nama jaringan, JIL berusaha jadi komunitas tempat para aktivis Muslim berbagai organisasi Islam Liberal berinteraksi dan bertukar pandangan secara
bebas.

Sebagai tempat beraktifitas, lokasi Jalan Utan Kayu no. 68 H, Jakarta Timur, menjadi pilihan utama sebagai kantor JIL. Sebidang tanah ini sebenarnya adalah milik jurnalis dan intelektual senior Goenawan Mohammad yang juga memiliki visi sama dengan JIL. Komunitas Utan Kayu sendiri didirikan pada tahun 1996 sebagai bentuk perlawanan, khususnya di bidang informasi, terhadap rezim Orde Baru.

Goenawan Mohammad sempat menceritakan bahwa di Utan Kayu juga berdiri galeri kecil dan teater sederhana, yakni Galeri Lontar dan Jurnal Kebudayaan Kalam – ketiganya bergerak di lapangan kesenian baik untuk acara kesenian maupun pertemuan politik. Komunitas Utan Kayu juga memiliki kantor berita yang dipimpin oleh Santoso. Radio inilah yang disebut KBR 68H.

Sejarah JIL
Menurut Novriantoni, koordinator program JIL,latar belakang dibentuknya JIL bermula di saat bergulirnya reformasi yang saat itu digawangi Amien Rais dan rekan-rekan mahasiswa. Seperti diketahui, kala itu era kebebasan media dimulai. “Maka pada waktu itu teman-teman sudah memikirkan perlunya sebuah wadah untuk menampung ide-ide kebebasan beragama yang semasa orde baru selalu didikte pemerintah,” kata Novri.

Dikatakan Novriantoni, JIL resmi berdiri sejak 8 Maret 2001, yang ditandai dengan dibuatnya website JIL. Program kerja yang dilaksanakan waktu itu sederhana saja, seperti sindikasi media di Koran Tempo dan talkshow radio tentang agama dan toleransi. Secara kelembagaan awalnya JIL berdiri dibawah ISAI (institute Studi Arus Informasi), semacam bidang kajian atau diskusi Islam pada lembaga tersebut. Kantor ISAI berkantor di Utan kayu.

JIL memililih bentuk jaringan, menurut Novri, karena alasan praktis atau pragmatis, agar lebih mudah dikelola dengan resources (sumber daya) yang terbatas. Selain itu JIL tidak berhasrat untuk menjadi ormas seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Hizbut Tahrir, FPI dan sebagainya. JIL lebih sebagai lembaga pemikiran, lembaga tempat para kawan-kawan muda berhimpun.
Sejak 2005, secara kelembagaan JIL saat ini sudah tidak lagi dibawah ISAI. Saat ini, berada dibawah “Yayasan Kajian Islam Utan Kayu”. Seperti diketahui, Komunitas Utan Yayu meliputi radio, galeri, ISAI, kedai Tempo, teater dan lain-lain.

Bicara soal jaringan JIL, seperti diakui Novriantoni, cakupannya tidak terlalu luas. Baru terfokus di Jawa, sedangkan diluar Jawa, antara lain: NTB, NTT, Medan, Lampung, Sumbar, sedangkan untuk daerah Kalimantan dan Sulawesi belum ada. Garapan JIL adalah masyarakat menengah keatas terdidik, seperti anak-anak muda di dunia kampus, tidak langsung ke grassroot.“Kita sadar bahwa membawa gagasan liberal ke kalangan grassroot memang tidak mudah.”

Untuk segmen kampus, JIL bekerja sama dengan kalangan BEM, kawan-kawan studi club di kampus, underbow organisasi islam, dan sebagainya. Ke depan, JIL terobsesi untuk melebarkan jaringannya ke beberapa daerah. Suatu ketika, pernah ada yang mengajukan diri untuk menjadi cabang JIL di Jogja, Bandung, dan sebagainya.
“Tapi kami merasa belum punya kapasitas untuk itu, kita masih ingin JIL ini non-formal saja. Sebenarnya bisa saja (menjadi formal) itu dilakukan. Kita menimbang banyak hal, kita menyadari bahwa tantangannya juga besar. Kita sih sudah biasa dengan ancaman dan teror. Persoalannya, apakah teman-teman di daerah siap dengan segala resiko itu. Kita juga tidak punya kapasitas untuk kunjungan ke daerah. Jadi kita bikin less formal aja, yang tidak mengikat. Relasi kita dengan daerah biasanya cuma di penerbitan bulletin dan diskusi kampus,” jelas Novri.

Ketika ditanya JIL menyebut simpatisannya sebagai apa? Novriantoni mengatakan, mereka sebagai partner, bukan anggota. Karena kita tidak punya kartu anggota JIL, bukan pula kader dan sebagainya. Secara keorganisasian, JIL tetap ada ketua, sekretaris, dan bendahara dsb.  Di JIL, ketua pengurusnya disebut dengan istilah coordinator. “Dulu koordinatornya mas Ulil, terus Hamid Basyaib, Luthfi Assyaukani sampai sekarang, saya sendiri koordinator program yang memastikan semua program jalan,” kata Novri.

Bagaimana sistem rekruitmen untuk masuk menjadi aktivis JIL? Novriantoni mengatakan, tergantung kebutuhan. JIL tidak perlu banyak orang untuk mengurusya, aktifis JIL tidak pernah lebih dari 10 orang, sekarang  cuma 7 orang. JIL tidak menjanjikan apa-apa, tidak ada jenjang karir dsb. “Sekedar honor salary bulanan sih ada. Kita tidak pernah buka lowongan terbuka, kita cuma ambil orang yang kita ketahui track recordnya,” tandas Novri.

Akhirnya, selamat Milad JIL ke-11, semoga para pengasongnya mendapatkan taufik dan hidayah-Nya. Bagi yang tidak tobat-tobat juga, semoga Allah mengistiqamahkan kesesatan kalian, dan bila wafat nanti, segera mendapat azab kubur. 

Kutipan :
Desastian / VoA-Islam
Kamis, 08 Mar 2012
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar