Laman

Minggu, 18 Maret 2012

Kericuhan Itu Berawal Dari Spanduk Mahasiswa, Mengorbankan Warga Pontianak




Kota Pontianak yang damai dihuni warga multietnis mendadak sontak ricuh. Kericuhan itu berawal spanduk. Gara-gara spanduk merah bertuliskan “Tolak Pembentukan FPI di Kalbar” yang dipasang oleh mahasiswa keperawatan yang terpampang di depan Asrama Mahasiswa Pangsuma, Jalan KH Wahid Hasyim, Rabu (14/03/2012), 

Pontianak pun dengan cepat memanas.
Takut ketentraman Pontianak terancam, warga mendesak agar spanduk provokatif yang dipasang mahasiswa itu diturunkan demi kebaikan bersama. 
"Oleh warga masyarakat sekitar, tindakan provokatif mahasiswa sekolah keperawatan tersebut diminta untuk diturunkan. Warga meminta agar spanduk itu diturunkan agar tidak terjadi kericuhan di Pontianak," terang Huki kepada MuslimDaily.Net saat dihubungi via telepon Kamis malam (15/032012).

Ketegangan semakin menguat setelah beberapa pengurus dan anggota Forum Pembela Islam (FPI) mendatangi lokasi pemasangan spanduk di Jalan KH. Wahid Hasyim. Anggota FPI segera mencabut spanduk di gerbang asrama mahasiswa di depan RSU St Antonius Pontianak itu. Akibatnya, muncullah keributan.
Diawali ketegangan antara penghuni Asrama Mahasiswa Pangsuma dengan puluhan massa yang sudah ramai berkerumun. Tekak-menekak pun terjadi, namun perang mulut kedua pihak tidak diwarnai kekerasan. Kedua pihak malah sempat turun ke jalan namun tetap tidak melakukan adu fisik.

Terjadi ketegangan hingga membuat aparat turun ke lokasi meminta agar spanduk tersebut diturunkan, langsung dipimpin oleh Kapolresta Pontianak Kombes Pol Muharrom Riyadi. Namun, permintaan polisi itu ditolak dan justru mereka melakukan perlawanan. Sontak saja massa yang geram kemudian meminta secara paksa agar spanduk provokatif tersebut dicopot. Mereka memaksa masuk asrama namun kemudian dibubarkan paksa oleh polisi. Setelah itu situasi tenang.

Menjelang petang tiba-tiba ketegangan terjadi lagi sehingga sejumlah anggota polisi menambah barikade kawat berduri dan mobil water canon pun diturunkan. Dalam situasi itu malah yang terjadi adalah ketegangan antara massa dan aparat polisi. Akhirnya massa berhasil digiring dan dibubarkan.

Aparat kepolisian kemudian melakukan sweeping mencari sumbernya, ternyata lagi-lagi sumber masalah itu sebuah spanduk. Kali ni tidak diketahui apa isi tulisannya. Polisi langsung mengamankan barang bukti.
Meskipun barang bukti sudah diamankan, sejumlah simpatisan FPI masih tidak terima dengan pemasangan spanduk itu. Mereka mengatakan, tidak pernah mengusik etnis ataupun agama lain di Kota Pontianak ini.

Syahroni, Dewan Syuro FPI Kalbar, sampai langsung turun ke lapangan. Syahroni tiba di lokasi menenangkan massanya serta simpatisan. Diduga ada provokator yang menyebabkan munculnya keributan ini.
“Kami minta masyarakat jangan terprovokasi dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Kami juga meminta penegak hukum agar mencari provokator yang menjadi pemicu. Karena hal ini sudah dimasuki provokator,” ungkap Syahroni, Rabu (14/3), setelah situasi mereda.

Pihak FPI, kata Syahroni, sudah melakukan pertemuan dengan Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kalbar Yakobus Kumis untuk diajak dialog menjaga keamanan Kalbar.
“Ini sudah dimasuki provokator yang mencoba memecah belah hubungan yang sudah dibangun selama ini. Aktor, kelompok, atau siapa pun yang menjadi provokator harus dicari agar tidak menjadi bumerang,” ujar Syahroni.

Dia juga mengingatkan bahwa ada kelompok atau aktor intelektual yang ingin memperkeruh suasana dan memanfaatkan situasi menjelang Pilgub Kalbar 2012 ini.
“Warga Kalbar jangan terprovokasi. Ada yang ingin memecah belah hubungan antarumat beragama, antaretnis, agar situasi politik kacau menjelang pilgub. Kami hanya meminta penegak hukum mencari provokatornya pemicu keributan, dan ditindak,” tegas Syahroni lagi.

Martius, 54, salah seorang yang mengaku sebagai pengurus DAD Kalbar ketika di lokasi keributan bersama Syahroni, juga tidak pernah menolak FPI atau apa pun.
“Yang penting situasi Kalbar aman, jangan sampai masyarakat terpecah belah. Kita tidak pernah membawa konsep yang tidak bagus. Bahkan sejak tahun 2000 hingga sekarang tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.
Martius mengatakan perlunya duduk satu meja, bertemu membahas permasalahan yang terjadi. “Masalah ini tidak ada kaitannya dengan yang terjadi di Kalteng. Kita akan berkoordinasi bagaimana caranya, agar jangan sampai terjadi keributan,” tandasnya.

Sementara itu, Kapolresta Kombes Pol Muharrom mengatakan semuanya sudah bisa diatasi. Diharapkan masyarakat jangan terpancing isu demi menjaga situasi yang kondusif. “Semuanya sudah bisa kita atasi, tidak terjadi apa-apa,” ujarnya.

Kapolda Kalbar Brigjen Unggung Cayono melalui AKBP Mukson Munandar mengimbau masyarakat agar menghormati sesama umat beragama dan saling menjaga kedamaian di Kalbar.
“Kedamaian di Kalbar harus terjaga. Jika ada masalah dalam masyarakat, selesaikan dengan cara kekeluargaan, jangan sampai menimbulkan efek yang tidak diinginkan,” kata Mukson.
Dia menambahkan, dengan menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat Kalbar akan terus tenteram. “Terciptanya suasana kamtibmas di masyarakat menjadi modal dasar kita untuk membangun Kalbar,” katanya. 

Rabu malam (15/03/2012), Pontianak mencekam. Wakapolda Kalbar, Komisaris Besar Syafarudin, Wakil Walikota Pontianak Paryadi, Kapolresta Pontianak Kombes Muharrom Riyadi, Dandim Pontianak Letkol Bima Yoga, dan Dewan Adat Dayak Kalbar Yakobus Kumis, serta tidak ketinggalan Ketua DPW FPI Kalbar Habib Muhammad Iskandar Al-Kadrie, Ketua DPD FPI Kota Pontianak dan serta beberapa tokoh masyarakat Kalbar lainnya sepakat menggelar pertemuan.
“Kami mengimbau masyarakat Kalbar agar tidak terprovokasi jika menerima pesan via SMS berkaitan insiden di Asrama Mahasiswa Pangsuma. Itu tidak benar dan bisa memancing pertikaian serta memicu situasi menjadi tidak kondusif,” kata Safaruddin saat memediasi pihak FPI dengan DAD Kalbar di Polresta Pontianak, Rabu (14/3) pukul 22.00 WIB.

Dalam dialog tersebut, Ketua DPW FPI Kalbar Habib Muhammad Iskandar Al-Kadrie mengaku sudah menerima pesan singkat (SMS) dari Ketua Umum DPP FPI Habib Rizieq Shihab. Isi SMS, Habib Rizieq meminta semua pihak agar mengedepankan dialog untuk mencari solusi dan pihaknya akan mendoakan agar Allah melindungi.

Sementara Ketua Dewan Adat Dayak Kalbar, Yakobus Kumis mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah lama ingin berdialog dengan FPI. Keinginan itu baru tercapai ketika Habib Rizieq berkunjung ke Pontianak memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Saya sebenarnya sudah lama ingin menjalin komunikasi dengan FPI. Dan baru kemarin saya bisa berdialog langsung dengan Habib Rizieq. Maksudnya, saya tidak mau main di belakang karena dialog merupakan salah satu yang terbaik untuk menjalin komunikasi,” katanya.

Yakobus Kumis juga mengimbau jangan ada gerakan apapun terkait insiden yang terjadi di Asrama Mahasiswa Pangsuma Pontianak. “Setelah proses mediasi ini, kami minta jangan ada gerakan apapun. Lebih baik jika ada persoalan kita selesaikan dengan dialog,” imbaunya.

Selain itu, dia menegaskan bahwa Gubernur Kalbar, Cornelis, tidak pernah melarang FPI di sini. “Jadi, jangan mudah terprovokasi oleh SMS yang menyesatkan. Kita ini mau hidup berdampingan antar-satu sama lainnya,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Kapolresta Pontianak Kombes Pol Muharrom Riyadi dan meyakini mahasiswa yang berdomisili di Asrama Mahasiswa Pangsuma tidak tahu apa-apa soal ini. “Saya yakin mahasiswa tidak tahu apa-apa mengenai persoalan ini,” ujarnya. 

Dalam pertemuan tersebut, baik pihak Dayak maupun FPI sepakat untuk saling menahan diri agar tidak terjadi bentrokan. 

Kamis Mencekam
Rabu malam (14/03/2012), pasca digelarnya pertemuan, Pontianak seperti tampak kembali mendingin. Namun ternyata Kamis (15/03/2012), Pontianak kembali memanas. "Keesokan harinya, tiba massa suku Dayak lain hendak berdemonstrasi menolak FPI dengan ratusan massa mendukung tindakan provokatif mahasiswa sekolah keperawatan yang sebelumnya telah memasang spanduk penolakan FPI," lanjut kontributor kami. 

Melihat aksi yang dilakukan oleh massa suku Dayak, maka massa FPI bersama umat Islam kemudian melakukan reaksi turun ke jalan sehingga terjadi kericuhan massa diantara kedua belah pihak, khususnya di Jalan Veteran. Konflik yang berawal dari mahasiswa Pangsuma dengan sejumlah anggota FPI tentang urusan spanduk kemudian bergeser menjadi kericuhan antara Umat Islam dengan Suku Dayak. Kedua kubu ini saling berhadapan dan sebuah sumber mengatakan sempat terlibat bentrok kecil. [lihat video Ricuh Umat Islam Dan Suku Dayak di Pontianak]

"Saat ini ashar, Kamis 15 Maret 2012, Sultan Pontianak memimpin langsung umat Islam berhadapan dengan orang-orang kafir dari luar Pontianak yang mau menyerang umat Islam," kata Ketua Umum DPP FPI Habib Rizieq Syihab, melalui pesan singkatnya yang diterima MuslimDaily, Kamis sore (15/3/2012).
Lebih lanjut, Habib Rizieq meminta kepada segenap umat Islam untuk membaca doa keselamatan dan kemenangan untuk umat Islam Pontianak.

"Diserukan kepada segenap umat Islam saat ini juga ba'da sholat ashar baca hizib nashr dan doa untuk keselamatan dan kemenangan sultan dan umat Islam Pontianak," sambung bunyi SMS dari Habib yang kami terima.

Kericuhan antara umat Islam dan warga Dayak non muslim itu pun kemudian tak kunjung mereda sore itu. [lihat video Ricuh Umat Islam Dan Suku Dayak di Pontianak]. Kamis malam, meskipun kedua kubu sudah berhasil dipisahkan, malam harinya kericuhan agak meluas. Oknum-oknum Dayak non muslim melakukan sweeping terhadap umat Islam di Pasar Tanjung Pura. 

Pangdam setempat sampai menurunkan tujuh truk pasukan dari Kota Singkawang. Pihak kepolisian juga menurunkan pasukan elite satu pesawat Hercules dari Mabes Polri ke Kota Pontianak.
"Malam ini (oknum-oknum_red) dayak kafir sweeping umat Islam di Pasar Tanjung Pura - Gajah Mada Pontianak," tulis Munarman, An Nashr Institute, melalui pesan singkat yang diterima MuslimDaily.Net mengabarkan, Kamis malam (15/03/2012).

Menurut keterangan Munarman, para muslimah yang secara kebetulan lewat dipaksa membuka jilbab oleh oknum-oknum suku Dayak di Pontianak. 
"Para muslimah dipaksa buka jilbab. Akhirnya umat Islam bersatu melawan mereka sehingga 2 orang mengalami luka-luka dan satu tumbang dari para pengacau," lanjut Munarman. 

Sebagai respon umat Islam Pontianak, umat Islam kemudian bergantian melakukan sweeping terhadap oknum-oknum suku Dayak dan kelompok pengacau. 
"Kini Umat Islam sweeping para kafir pengacau. Doakan!" kata Munarman.
"Saat ini bukan hanya FPI saja yang turun melawan kafir, tapi umat Islam di Pontianak secara keseluruhan ikut serta," sambung Munarman masih melalui pesan singkat.

Seorang warga di daerah Wonodadi-Pontianak, kepada MuslimDaily.Net. Kamis malam (15/03/2012) membenarkan adanya kericuhan yang melibatkan oknum warga Dayak dengan umat Islam Pontianak. 
"Iya benar, memang ada ricuh tadi di daerah Pasar Tanjung Pura. Sudah biasa terjadi kok mas. Cuman malam ini memang sepertinya lebih besar dari biasanya. Dan sekarang jalan-jalan ditutup. Selebihnya saya tidak tahu karena saya tidak bisa keluar," kata salah seorang warga via telepon kepada MuslimDaily.Net.

Situasi malam kemudian berangsur-angsur mereda setelah waktu sholat Isya' meskipun masih ada konsentrasi massa kedua kubu di masing-masing wilayah. 
"Situasi malam ini (Kamis malam), yang jelas di Pontianak memang masih ada konsentrasi massa antara suku Dayak non muslim & umat Islam Pontianak. Namun aparat Polisi & TNI sudah disiagakan untuk memblokade kedua massa agar tidak terjadi bentrok fisik jarak dekat," kata seorang warga yang bertempat tinggal di Jalan Merdeka Barat berdekatan dengan RS. Antonius Pontianak itu kepada MuslimDaily.Net. 

Seorang warga lain bernama Ibrahim Al Durra mengatakan, beberapa ruas jalan di Pontianak ditutup sementara, Kamis malam. Antara lain Jl. Veteran dan Jl. Tanjung Raya. Polisi disiagakan di beberapa sudut kota. Massa terkonsentrasi di jalan Veteran.

Jumat Dini Hari
Kamis malam (15/03/2012) sekitar pukul 23.00 WIB, entah dipicu karena masalah apalagi. massa umat Islam melakukan pengepungan terhadap sebuah rumah Bentang (rumah adat Dayak). Pengepungan berlangsung sampai waktu dini hari sekitar pukul 01.00 WIB setelah berhasil dibubarkan oleh aparat kepolisian dengan menembakkan tembakan peringatan.

Pengepungan rumah adat Bentang yang berlangsung lama hampir membuat massa umat Islam terprovokasi untuk melakukan pembakaran terhadap rumah tersebut. Pembakaran rumah Bentang itu diurungkan karena pertimbangan umat Islam lebih mengedepankan perdamaian dan tidak ingin melanjutkan masalah lagi. Para penghuni rumah adat Bentang sendiri sudah diungsikan ke rumah Gubernur, demikian dituturkan oleh Muhammad Pramulya, seorang Dosen Fakultas Pertanian UNTAN kepada MuslimDaily.net (Jumat subuh, 16/03/2012).

Pramulya juga menuturkan bahwa jumlah korban masih simpang siur antara 2 atau 4 orang dan dari pihak mana juga belum jelas. Dia hanya berani memastikan ada 2 orang mengalami luka-luka dari pihak Dayak. 
"Jumlah korban luka masih simpang siur antara 2-4. Dari pihak mana juga belum jelas. Namun yang jelas ada 2 orang mengalami luka dari pihak Dayak. Sayangnya, pihak rumah sakit Soedarso tidak mau memberikan informasi," tutur Pramulya yang merupakan anak dari penasehat Dewan Adat Dayak Kalbar dari kalangan Dayak muslim itu. 

Pramulya menjelaskan bahwa malam harinya kemudian langsung dikumpulkan seluruh ketua Adat, Ketua DPD FPI, Walikota, Wakil Walikota, Kodam, dan Kapolda serta tokoh-tokoh masyarakat. Mereka kemudian membuat kesepakatan untuk tetap saling menjaga dan menahan diri. 

Jumat Siang
Setelah tercapainya kesepakatan menjaga perdamaian, Jumat pagi (16/03/2012), warga kota Pontianak sudah mulai terlihat kembali beraktivitas.
"Alhamdulillah aman, kegiatan masyarakat kembali beraktivitas. tetapi dengan penjagaan polisi dan aparat," kata Pramulya kepada MuslimDaily.Net Jumat pagi (16/03/2012) sekitar pukul 09.00 WIB. 

Penjagaan yang ketat juga dilakukan oleh aparat berwenang di beberapa lokasi yang dianggap berpotensi menimbulkan konflik, antara lain di rumah-rumah Betang (rumah adat suku Dayak) dan daerah Beting (kraton).
"Penjagaan polisi dan aparat dilakukan di beberapa lokasi antara lain di rumah Betang (rumah adat Dayak) dan daerah Beting (Kraton)," tambahnya.

Meskipun dalam suasana yang relatif aman dan kondusif, Muhammad Pramulya, salah seorang staf pengajar di Universitas Tanjungpura (UNTAN) menyarankan kepada anak-anak sekolah dan mahasiswa untuk meliburkan diri terlebih dahulu sampai situasi benar-benar sudah sangat aman.
"Situasi di Pontianak saat ini (Jumat pagi_red) relatif aman dan kondusif. Namun demikian kami menyarankan agar anak-anak sekolah dan mahasiswa untuk libur saja," ujarnya Jumat pagi.

Sampai dengan berita ini diturunkan, kami mengkonfirmasi situasi dan kondisi di Pontianak kepada beberapa warga setempat Jumat sore hari ini sudah kondusif dan sudah tidak ada konsentrasi massa dalam jumlah besar di sudut-sudut jalan atau gang. Semoga Pontianak kembali segera damai.
Diposting Jum'at, 16-03-2012 | 15:47:24 WIB

Kutipan :
muslimdaily 
Jum'at, 16 Mar 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar